Said Iqbal Tegaskan Kongres VII FSPMI sebagai “Patahan Waktu” Penentu Arah Perjuangan Buruh Indonesia

Said Iqbal Tegaskan Kongres VII FSPMI sebagai “Patahan Waktu” Penentu Arah Perjuangan Buruh Indonesia

Jakarta, KPonline – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Ketua Majelis Nasional FSPMI, sekaligus Presiden Partai Buruh periode 2026–2031, Ir. H. Said Iqbal, M.E., menyampaikan pidato penuh refleksi sejarah dan semangat perjuangan dalam Kongres VII FSPMI yang digelar di Ballroom Hotel Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Minggu (8/2/2026).

Mengawali sambutannya, Said Iqbal menyapa ribuan peserta kongres dengan pertanyaan yang langsung membakar semangat forum, “Masih semangat? Tetap setia?” Seruan tersebut dijawab dengan lantang oleh peserta Kongres VII FSPMI yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Dalam pidatonya, Said Iqbal menegaskan bahwa Kongres VII FSPMI merupakan momentum penting untuk memastikan perjuangan kaum buruh Indonesia tetap berlanjut. Ia menyebut kongres dan Munas VII FSPMI sebagai patahan waktu, yakni momen krusial yang menentukan arah kepemimpinan dan masa depan organisasi.

Sebelum melanjutkan pidato utama, Said Iqbal meminta seluruh peserta memberikan aplaus meriah kepada para tamu undangan internasional yang hadir, di antaranya IndustriALL Global Union (Brother Kemal Özkan dan Brother Ramon Carteza – Kanada), JCM Jepang (Akihiro Kaneko dan Hidyuki Hirakawa), IFWEA (Nina Langit Gracia), BWI Myanmar, SASK, Solidarity Center, ABVV Metal Belgia, Finnish Industrial Union, serta Trade Union Pro Belgia. Kehadiran mereka menjadi bukti kuatnya solidaritas internasional terhadap perjuangan buruh Indonesia.

Selain itu, hadir pula jajaran Partai Buruh, di antaranya Sekretaris Jenderal Partai Buruh H. Ferri Nuzarli, S.E., S.H., perangkat federasi di bawah KSPI seperti SPN, Farkes, dan KEP KSPI, serta para pendiri FSPMI seperti Bapak Aziz, Bapak Sulaeman, Bapak Samsul, Bapak Yadun, Bapak Syawal, dan tokoh-tokoh lainnya.

Ballroom Hotel Mercure Ancol dipadati sekitar 1.500 peserta, yang terdiri dari jajaran DPP FSPMI, PP SPA FSPMI, DPW FSPMI, KC FSPMI, PC SPA FSPMI, hingga PUK SPA FSPMI.

Dalam pidato panjangnya, Said Iqbal mengajak peserta menengok kembali sejarah Kongres FSPMI tahun 2006, saat dirinya pertama kali diberi amanah sebagai Presiden FSPMI. Ia mengingat bagaimana kongres tersebut memutuskan langkah melampaui zamannya dengan memperjuangkan reformasi besar di bidang jaminan sosial.

Ia menggambarkan kondisi kelam saat itu, ketika rakyat miskin dan buruh kerap ditolak berobat di rumah sakit hanya karena tidak memiliki uang. Bahkan, Said Iqbal mengisahkan tragedi seorang ayah pemulung yang membawa jenazah anaknya dengan kereta listrik karena ditolak pemakaman hanya karena kemiskinan. Kisah tersebut menjadi pemicu kuat lahirnya perjuangan jaminan sosial oleh FSPMI.

Melalui Kongres 2006, FSPMI memutuskan untuk melawan ketidakadilan tersebut. Perjuangan panjang melalui Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) selama tiga tahun akhirnya membuahkan hasil, hingga lahirnya sistem jaminan sosial dan BPJS Kesehatan, yang menjamin rakyat Indonesia tidak lagi ditolak berobat.

Said Iqbal juga mengingatkan peran besar Kongres FSPMI 2011 dan 2012 dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui perjuangan upah layak. Ia menyinggung pemogokan nasional terbesar tahun 2012 yang melibatkan sekitar 3 juta buruh, sebagaimana diberitakan Al Jazeera dan CNN, yang digerakkan oleh FSPMI bersama elemen KSPI dan serikat buruh lainnya.

Memasuki masa pandemi Covid-19, Said Iqbal menyoroti terbitnya UU Omnibus Law yang dinilainya sebagai serangan balik terhadap kaum buruh, melalui praktik outsourcing seumur hidup dan pembekuan kenaikan upah. Namun demikian, ia menegaskan bahwa FSPMI tidak pernah menyerah.

Pada Kongres FSPMI 2021 di Purwakarta, Bung Riden Hatam Aziz terpilih sebagai Presiden FSPMI dan Bung Rosyad sebagai Sekjen. Kongres tersebut kembali menegaskan mandat untuk terus melawan ketidakadilan dan menjaga nyala perjuangan buruh.

Menutup sambutannya, Said Iqbal mengapresiasi pemutaran film dokumenter perjuangan FSPMI di awal pembukaan Kongres VII. Film tersebut, menurutnya, menjadi bukti nyata militansi kaum buruh—mereka yang kerap terpinggirkan dan suaranya tak didengar, namun tetap bangkit, melawan, jatuh, bangun, dan terus melangkah.

“Kongres ini adalah patahan waktu. Salah memilih pemimpin, maka sejarah bisa berbelok. Tapi jika tepat memilih, maka sejarah akan berpihak kepada kaum buruh,” tegas Said Iqbal di hadapan ribuan peserta.

Pos terkait