Jakarta, KPonline-Kongres V Partai Buruh yang diselenggarakan di Boutique Hotel, Jakarta, Selasa,(20/1/2026) menjelma menjadi mimbar ideologis, spiritual, dan politis ketika Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyampaikan sambutan yang bukan hanya memanggil akal, tetapi juga mengetuk hati para delegasi dari 38 provinsi.
Pidato itu dibuka dengan doa, namun segera berbelok menjadi pernyataan sikap yang tajam. “Semoga Tuhan memberkati apa yang ingin kita diskusikan, musyawarahkan, putuskan, dan terima,” ucap Said Iqbal. Kalimat itu bukan basa-basi. “Perubahan tidak akan datang jika rakyat dan kelas pekerja berhenti berusaha,” sambungnya.
Di hadapan peserta kongres, baik yang hadir langsung maupun daring, Said Iqbal menegaskan bahwa Kongres V adalah momentum kebahagiaan sekaligus tanggung jawab sejarah. Bukan hanya untuk Partai Buruh, tetapi untuk masa depan rakyat kecil yang selama ini terpinggirkan dalam kebijakan negara.
Salah satu penekanan kuat dalam pidato Said Iqbal adalah dimensi internasional perjuangan kelas pekerja. Ia mengingatkan bahwa Partai Buruh Indonesia bukan entitas yang berjalan sendiri.
“Kita tidak sendiri di dunia ini,” tegasnya.
Dukungan dan kehadiran berbagai organisasi serta partai progresif dunia. Mulai dari Progressive Alliance, partai-partai sosial demokrat, sosialis kiri, hingga partai buruh dari Filipina menjadi bukti bahwa perjuangan buruh adalah perjuangan global. Pengalaman dari negara lain, menurutnya, adalah cermin sekaligus bahan bakar.
“Pengalaman dari negara-negara lain itu akan kita ambil. Mana yang bisa diterapkan di negeri ini,” kata Said Iqbal, menandaskan bahwa internasionalisme buruh bukan slogan, melainkan strategi.
Said Iqbal juga menyebut satu per satu 11 organisasi rakyat yang menjadi pilar kekuatan Partai Buruh. Dari serikat buruh, serikat petani, organisasi guru honorer, tenaga kesehatan, organisasi perempuan, hingga elemen rakyat lainnya semua disatukan dalam satu visi politik.
Ia meminta para delegasi dari Aceh hingga Papua pulang dengan satu keputusan yaitu bergerak, bekerja, dan mengorganisir rakyat kecil.
“Kalau sampai 2029 kita kalah kembali,” ujar Said Iqbal dengan nada serius, “itu bukan urusan Tuhan soal kalah atau menang.”
Kalimat itu sontak menjadi sorotan. Bagi Said Iqbal, kegagalan politik bukanlah kutukan ilahi, melainkan akibat dari kelalaian manusia.
Di titik inilah pidato Said Iqbal berubah menjadi refleksi filosofis dan spiritual yang jarang terdengar dalam forum politik.
“Tuhan tidak akan mengubah nasib satu bangsa, satu komunitas, satu negeri, kalau orang-orang di dalamnya tidak mau berusaha dan tidak mau berubah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Tuhan memberi kebebasan penuh kepada manusia apa pun agamanya untuk memilih jalan hidupnya. Menjadi baik atau menjadi buruk, menjadi pejuang atau menjadi penonton, semuanya adalah keputusan manusia.
Namun kebebasan itu datang bersama konsekuensi. Setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawaban.
Dengan analogi yang sederhana namun mengena, Said Iqbal membandingkan manusia dengan sebuah mobil produksi pabrik.
“Kalau Toyota bikin mobil, ada manual book-nya. Begitu juga Tuhan menciptakan manusia. Ada manualnya,” ujar Said Iqbal.
Manual itu, menurutnya, terdiri dari tiga hal:
1. Akal, untuk berpikir dan menimbang.
2. Hati, untuk menilai kebenaran.
3. Tubuh, untuk menjalankan apa yang diyakini benar.
“Kau tidak perlu tanya orang lain. Tanya dulu hatimu. Tanya akalmu,” katanya.
Pesan ini menjadi kritik halus terhadap elite politik yang kerap mengkhianati nurani, serta seruan keras kepada kader Partai Buruh agar tidak kehilangan kompas moral dalam perjuangan.
Diakhir pidatonya, Said Iqbal mengingatkan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan suci, sebagaimana diajarkan oleh semua kitab suci: Weda, Tripitaka, Injil, Al-Qur’an.
“Setiap manusia lahir bersih. Setelah itu, dia diberi kebebasan untuk memilih,” ujarnya.
Karena itu, menurut Said Iqbal, bekerja untuk orang kecil bukan sekadar aktivitas politik, melainkan tugas moral dan spiritual. Kongres V Partai Buruh, dalam kerangka ini, bukan hanya agenda organisasi, melainkan medan pembuktian apakah Partai Buruh sungguh-sungguh menjadi alat perubahan, atau sekadar menjadi nama di kertas suara.
“Dengan keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin. Asal ada usaha, keberanian, dan kesetiaan pada nurani,” pungkasnya.
Pesannya jelas. Jika buruh kalah lagi, jangan salahkan Tuhan. Bertanyalah pada diri sendiri. Sudahkah kita benar-benar berjuang?