Rupiah Melemah Harga Barang Naik, Upah Buruh Rendah Bikin Kelas Pekerja Makin Terjepit

Rupiah Melemah Harga Barang Naik, Upah Buruh Rendah Bikin Kelas Pekerja Makin Terjepit

Jakarta, KPonline-Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir tidak bisa dilepaskan dari dampak ekonomi global, terutama konflik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasar. Kondisi ini berimbas langsung pada kenaikan harga barang di dalam negeri. Bagi kelas pekerja di Indonesia, situasi tersebut semakin berat karena upah buruh masih tergolong rendah dibandingkan banyak negara lain.

Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, terutama perang di kawasan Timur Tengah. Ketika konflik meningkat, investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut melemah.

Bank Indonesia juga menyatakan bahwa tekanan di pasar keuangan global pada awal 2026 dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik, kebijakan moneter negara maju, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing. Kondisi tersebut membuat rupiah terdepresiasi dan bergerak di kisaran Rp16.800-Rp17.000 per dolar AS.

Bahkan pemerintah mengakui konflik Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang dapat memperlebar defisit anggaran dan menambah tekanan terhadap ekonomi nasional.

Kemudian, ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat, terutama untuk barang yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri seperti pangan, energi, dan produk industri.

Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik global juga berdampak langsung pada biaya transportasi dan produksi, sehingga harga barang di pasar dalam negeri ikut merangkak naik.

Kondisi ini membuat inflasi berpotensi meningkat, sementara daya beli masyarakat belum tentu ikut naik, terutama bagi pekerja dengan penghasilan tetap.

Di tengah kenaikan harga kebutuhan hidup, persoalan lain muncul dari sisi penghasilan. Data internasional menunjukkan bahwa Indonesia masih masuk dalam daftar negara dengan upah minimum terendah di dunia.

Rata-rata upah buruh di Indonesia juga dinilai lebih rendah dibandingkan beberapa negara ASEAN, sehingga sering menjadi sorotan dalam isu kesejahteraan pekerja.

Sehingga, ketika nilai tukar melemah dan harga kebutuhan meningkat, kelompok yang paling terdampak adalah kelas pekerja dengan penghasilan rendah.

Situasi pun semakin terasa ketika kenaikan harga terjadi secara bertahap, sementara kenaikan upah biasanya hanya dilakukan setahun sekali melalui mekanisme upah minimum.

Karena itu, stabilitas nilai tukar, pengendalian harga, dan kebijakan upah yang adil menjadi faktor penting agar dampak gejolak global tidak sepenuhnya dibebankan kepada buruh dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Singkatnya, pelemahan rupiah akibat konflik global, terutama perang di Timur Tengah, telah memicu kenaikan harga barang di dalam negeri. Dalam situasi seperti ini, rendahnya upah buruh di Indonesia membuat kelas pekerja berada pada posisi paling rentan.

Jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang melindungi daya beli, gejolak ekonomi global berpotensi semakin memperlebar kesenjangan dan memperberat beban hidup masyarakat pekerja.