Jakarta, KPonline – Pendiri FSPMI sekaligus pengurus PP SPPJM FSPMI, Ridwan Panjaitan, menyampaikan sambutan penuh pesan moral dan peringatan keras dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VI SPPJM FSPMI yang digelar di Ruang Nirwana 1, Hotel Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Senin (9/2/2026).
Dalam sambutannya, Ridwan Panjaitan mengawali dengan sebuah kisah perumpamaan tentang perebutan harta warisan di antara saudara kandung. Kisah tersebut ia gunakan sebagai refleksi atas dinamika dan konflik yang kerap terjadi dalam organisasi.
“Anggap saja FSPMI itu harta warisan kita bersama. Ada empat orang bersaudara yang memiliki tanah kavling senilai 10 miliar rupiah. Anak paling bungsu meminta bagian 4 miliar. Sisanya dibagi tiga, masing-masing dua miliar,” tuturnya.
Ridwan kemudian menggambarkan kisah tragis ketika seorang pengusaha hanya memberikan uang kepada satu orang, sementara tiga saudara lainnya dibunuh. Anak bungsu kemudian menuntut seluruh nilai tanah sebesar 10 miliar, padahal sejak awal ia hanya meminta bagian 4 miliar.
“Saudaranya sudah tidak ada, tapi haknya tetap 4 miliar. Tidak bisa berubah,” tegasnya.
Melalui kisah tersebut, Ridwan mengingatkan agar para kader dan anggota SPPJM FSPMI tidak bersikap serakah dengan mengorbankan persatuan organisasi.
“Kawan-kawan, jangan meminta bagian lebih besar dengan cara mematikan saudara sendiri. Jangan mengubah AD/ART seenaknya hingga kita tidak bisa bergerak,” ujarnya tegas.
Ia juga mengingatkan agar hasil perjuangan para pendiri tidak disia-siakan. Ridwan menyebut nama Sulaeman, Said Iqbal, dan para pendiri FSPMI lainnya yang telah meletakkan dasar perjuangan organisasi.
“Jangan sia-siakan hasil perjuangan orang tua kita, para pendiri FSPMI, hanya demi ambisi sesaat. Perjuangan ini bukan untuk kita saja, tapi untuk adik-adik dan generasi selanjutnya,” katanya.
Menurut Ridwan, mereka yang menghancurkan persatuan organisasi demi kepentingan pribadi termasuk sebagai penghianat terhadap perjuangan buruh.
“Kalau karena ulah kita organisasi hancur dan generasi berikutnya tersiksa dan melarat, maka kita adalah penghianat dan pembohong besar,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ridwan menyoroti kondisi buruh di sektor perkapalan yang masih menghadapi persoalan upah murah dan keselamatan kerja. Ia menegaskan bahwa hal tersebut harus menjadi perjuangan bersama SPPJM FSPMI.
“Buruh perkapalan masih banyak yang bekerja dengan upah murah dan risiko tinggi. Ini tanggung jawab kita bersama untuk memperjuangkan kesejahteraan dan keselamatan kerja anggota,” ujarnya.
Ia juga membakar semangat peserta Munas agar tidak merasa rendah diri atau kalah dalam perjuangan.
“Jangan mau dibilang pecundang. Jangan mau merasa kalah. Kalian adalah pemenang setiap saat,” serunya.
Ridwan menekankan bahwa perjuangan harus dilakukan dengan cerdas dan sesuai aturan yang berlaku. Ia mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi AD/ART FSPMI sebagai pedoman bersama.
“Kalau sudah kita sepakati bersama, maka semua harus tunduk pada AD/ART. Panitia, steering committee, hingga seluruh perangkat organisasi harus patuh. Karena kalian semua adalah orang-orang pilihan,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Ridwan menekankan besarnya tanggung jawab struktur organisasi, mulai dari PUK, PC, PP hingga DPP, untuk memikirkan kepentingan seluruh anggota.
“Kalau kita hidup di organisasi, maka kita jalani bersama dan bertanggung jawab bersama. Mari kita perjuangkan SPPJM FSPMI,” pungkasnya.
Sambutan tersebut ditutup dengan yel-yel baru SPPJM FSPMI yang disambut serempak dan penuh semangat oleh peserta Munas:
“SPPJM… Bergerak!
SPPJM… Bersinergi!
SPPJM… Wujudkan SPPJM Kuat!”
Munas VI SPPJM FSPMI pun menjadi momentum penguatan ideologi, persatuan, dan komitmen perjuangan demi kesejahteraan buruh sektor perkapalan, jasa, dan maritim di Indonesia.



