Purwakarta, KPonline-Dalam lebih dari tiga dekade terakhir, nama Said Iqbal menjadi salah satu figur paling dominan sekaligus paling dipertanyakan dalam sejarah gerakan buruh modern Indonesia. Dari aktivis pabrik yang selalu memimpin aksi di jalanan hingga menjadi presiden serikat buruh dan menghidupkan kembali Partai Buruh, sepak terjangnya menyentuh semua aspek perjuangan kelas pekerja. Namun juga memicu kritik tentang strategi, politik, dan arah gerakan itu sendiri.
Said Iqbal lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968. Tidak seperti tokoh buruh klasik yang lahir dari kaum proletar tradisional, Said Iqbal justru berangkat dari latar pendidikan yang kuat. Ia menyelesaikan pendidikan teknik mesin dan kemudian meraih gelar master ekonomi dari Universitas Indonesia.
Kariernya sebagai aktivis buruh dimulai pada tahun 1992 saat ia aktif dalam serikat pekerja di sebuah pabrik elektronik di Bekasi, Jawa Barat. Sebuah awal sederhana yang kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang sebagai pemimpin buruh nasional. Dimana setelah era reformasi membuka ruang bagi pendirian serikat buruh independen, Said Iqbal bersama tokoh buruh lain membentuk Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Ia kemudian di daulat menjadi sekretaris jenderal, kemudian presiden federasi tersebut, dan akhirnya menjadi Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sejak 2012, posisi yang bahkan ia pegang berulang kali lewat pemilihan aklamasi dari anggota.
Dibawah kepemimpinannya, KSPI menjadi motor utama gerakan sejumlah aksi besar buruh nasional, termasuk yang dikenal sebagai gerakan HOSTUM (Hapus Outsourcing dan Tolak Upah Murah) pada periode 2012–2013 yang memicu mogok massal buruh di seluruh negeri. Sesuatu yang belum pernah terjadi sedemikian spektakuler sebelumnya.
Bahkan, rekam jejak Said Iqbal tak hanya diakui di dalam negeri. Pada 2013, ia dianugerahi The Febe Elisabeth Velasquez Trade Union Award, penghargaan tertinggi oleh federasi buruh Belanda FNV yang diberikan kepada aktivis terkemuka di dunia. Ia menyisihkan ratusan kandidat dari berbagai negara berkat dedikasinya dalam memperjuangkan hak-hak buruh, upah layak, dan kebebasan berserikat.
Selain itu, Saud Iqbal juga aktif dalam forum internasional yaitu dewan organisasi buruh internasional seperti International Labour Organization (ILO), menjadi wakil di ASEAN Trade Union Council, serta anggota General Council International Trade Union Confederation (ITUC).
Pada Oktober 2021, langkah berikutnya dalam karier Iqbal adalah mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden Partai Buruh, sebuah platform politik yang menggabungkan tuntutan serikat buruh dengan strategi elektoral. Posisi ini sekaligus menunjukkan pergeseran tak sekadar dari gerakan sosial ke kancah politik formal.
Namun, strategi politik ini tidak lepas dari kritik. Beberapa pihak, terutama di kalangan aktivis dan analis politik, menilai langkah Iqbal mencium kekuasaan dan berkolaborasi dengan elit politik sebagai kalkulasi pragmatis justru bisa menjauhkan suara buruh dari aspirasi riil mereka, terutama ketika pilihan politik partai buruh dinilai tidak selalu selaras sempurna dengan kepentingan buruh secara masif.
Sebagai presiden KSPI, Said Iqbal secara konsisten memimpin tuntutan buruh di berbagai momentum besar nasional seperti May Day (Hari Buruh Internasional), menuntut kenaikan upah, penghapusan outsourcing, penolakan terhadap Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang dianggap merugikan buruh, serta reformasi kebijakan ketenagakerjaan lainnya. Ia sering menyerukan buruh untuk berdemo secara damai tetapi tegas, sekaligus kembali mempertahankan hak serikat untuk mogok tanpa kekerasan.
Baru-baru ini, Said Iqbal bahkan menyambut pengakuan negara terhadap Marsinah sebagai Pahlawan Nasional, menegaskan bahwa perjuangan buruh kini mulai mendapat tempat di narasi sejarah resmi Republik Indonesia. Sesuatu yang dulu mustahil terjadi.
Namun rekam jejak Said Iqbal bukan tanpa kontroversi. Banyak kalangan buruh yang memuji militansinya, tetapi tidak sedikit pula yang mempertanyakan strategi politisnya. Terutama kombinasi antara serikat buruh dan partai politik yang kadang dianggap lebih menguntungkan figur ketimbang kelas pekerja secara keseluruhan.
Alhasil, kritik tersebut mencerminkan dilema yang lebih luas bagi gerakan buruh modern Indonesia: antara mempertahankan independensi aksi dan memasuki arena politik formal.
Inilah gambaran panjang dan berlapis tentang Said Iqbal. Mulai dari aktivis pabrik hingga menjadi salah satu wajah paling berpengaruh dan sekaligus paling diperdebatkan dalam sejarah gerakan buruh Indonesia modern. Rekam jejaknya menjadi cermin dinamika perjuangan buruh di Indonesia. Penuh prestasi, konflik, kompromi politik, dan harapan akan masa depan rakyat pekerja yang lebih adil.