Purwakarta, KPonline–Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah kini seolah sedang digadaikan di atas meja-meja perundingan yang dingin. Ketua KC FSPMI Purwakarta, Fuad BM, melontarkan kritik pedas yang menusuk jantung kekuasaan ia melihat bayang-bayang masa lalu kolonial kembali menghantui Indonesia.
Di tengah badai harga kebutuhan yang mencekik leher, rakyat justru dibiarkan terperosok dalam kubangan kemiskinan dan kebodohan yang terstruktur. Lebih menyakitkan lagi, Fuad menuding adanya oknum-oknum penguasa yang kini berperan tak ubahnya ‘centeng’ di zaman penjajahan Belanda lantang membela kepentingan asing, namun menutup telinga terhadap jeritan rakyatnya sendiri yang dianggap sebagai beban negara.
Kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja memicu keprihatinan mendalam dari berbagai elemen buruh. Ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (KC FSPMI) Kabupaten Purwakarta, Fuad BM, menyoroti tajam fenomena kemiskinan dan kebodohan yang seolah sengaja dipelihara untuk melanggengkan kekuasaan pihak tertentu.
Dalam sebuah pernyataan terbarunya, Fuad menegaskan bahwa akar masalah keterpurukan bangsa hari ini bermuara pada dua hal yaitu Kemiskinan dan Kebodohan. Inilah yang membuat rakyat sulit untuk bangkit dan terus terjebak dalam lingkaran ketidakberdayaan.
Harga Tinggi dan Kebijakan yang Tidak Memihak Rakyat
Fuad BM melihat adanya kontradiksi besar dalam pengelolaan negara. Di saat harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi, rakyat seolah dipaksa untuk tetap berada dalam garis kemiskinan melalui regulasi yang ada.
“Tak satu pun produk undang-undang yang dibuat untuk mencerdaskan. Tak satu undang-undang pun yang dapat membuat rakyat sejahtera,” tegas Fuad.
Sentilan ini merujuk pada maraknya produk hukum yang dianggap lebih berpihak pada kepentingan pasar dan pemilik modal dibandingkan kepentingan perlindungan buruh dan kesejahteraan rakyat kecil. Ia menilai peran negara dalam memajukan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan umum kian memudar.
Yang paling mengkhawatirkan dari amatan Fuad adalah munculnya “penjilat kekuasaan” yang perilakunya menyerupai centeng di zaman kolonial Belanda. Mereka bersuara lantang membela kebijakan yang justru merugikan bangsanya sendiri demi menyenangkan tuan-tuan baru.
Akibatnya, secara perlahan namun pasti, negara ini berisiko kembali ke masa penjajahan. Bedanya, kali ini penjajahan terjadi melalui dominasi ekonomi.
Orang asing dipuja bak emas, diberikan karpet merah dan segala kemudahan.
Rakyat sendiri dianggap beban, hanya dilihat sebagai mesin tenaga kerja yang tidak menghasilkan apa-apa selain melayani kepentingan asing.
Menutup pandangannya, Fuad BM memberikan pesan pembakar semangat bagi seluruh anggota FSPMI dan rakyat pada umumnya. Menurutnya, menyerah bukanlah pilihan.
“Terus berjuang. Jika kita menyerah, maka lambat laun kesejahteraan akan hilang selamanya,” pungkasnya.
Pesan Fuad BM ini menjadi alarm bagi seluruh elemen pergerakan buruh, khususnya di Purwakarta, untuk tetap solid dan kritis terhadap setiap kebijakan yang menjauhkan rakyat dari cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya Adil dan Makmur.