Cerita ku tentang senja tak pernah usai,
ia selalu datang membawa sisa cahaya
yang tak sempat kusebut sebagai bahagia,
namun cukup hangat untuk menenangkan luka.
Di langit jingga itu,
aku menitipkan lelah
pada awan yang berjalan pelan,
pada matahari yang pamit tanpa janji pulang.
Senja mengajariku satu hal:
pergi tak selalu berarti kalah,
dan redup bukan tanda menyerah,
melainkan cara semesta mengistirahatkan cahaya.
Maka biarlah cerita ini terus hidup,
setiap sore, di batas hari,
saat harapan dan kenangan
berjabat tangan dalam diam.
(Eva)