Prof. Burhanuddin Muhtadi: Elektabilitas 3 Persen Jadi Kunci Peluang Partai Buruh Tembus Parlemen

Prof. Burhanuddin Muhtadi: Elektabilitas 3 Persen Jadi Kunci Peluang Partai Buruh Tembus Parlemen

Jakarta, KPonline – Kongres Partai Buruh hari kedua yang digelar di Hotel Golden Boutique, Kemayoran, Jakarta Pusat, diisi dengan Seminar Politik yang menghadirkan Prof. Burhanuddin Muhtadi, M.A., Ph.D, Guru Besar Ilmu Politik FISIP UIN Jakarta.

Dalam pemaparannya, Prof. Burhanuddin menegaskan bahwa membangun elektabilitas partai politik bukanlah proses instan. Berdasarkan pengalaman dan kajian ilmiah, ia menyebut banyak partai membutuhkan waktu panjang, bahkan lebih dari 10 tahun, untuk dapat menunjukkan elektabilitas yang signifikan di mata publik.

Bacaan Lainnya

“Pertanyaannya, apakah ada partai yang dalam waktu singkat langsung memiliki elektabilitas tinggi? Jawabannya, hampir tidak ada,” ujar Prof. Burhanuddin di hadapan peserta kongres.

Ia kemudian menjelaskan pentingnya angka 3 persen elektabilitas sebagai fondasi awal yang sangat strategis. Menurutnya, menjelang pemilu selalu terdapat pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) dengan jumlah berkisar 15 hingga 20 persen.

“Jika sebuah partai sudah berada di angka 3 persen, bahkan 4 persen sebelum tahapan krusial KPU, maka secara matematis dan politis peluang untuk menembus ambang batas parlemen itu sangat terbuka dan memiliki dasar yang kuat,” jelasnya.

Namun demikian, tantangan besar yang dihadapi partai baru adalah meyakinkan figur-figur potensial, khususnya tokoh populer dari luar partai-partai lama, agar bersedia bergabung dan berjuang bersama. Prof. Burhanuddin menilai, Partai Buruh masih memiliki waktu sekitar empat tahun ke depan untuk melakukan konsolidasi, penguatan struktur, serta membangun daya tarik politik.

Ia juga menekankan bahwa proses menuju pemilu masih panjang dan dinamis. “Tahapan pemilu masih berjalan hingga Februari, bahkan perubahan politik bisa terjadi sampai bulan-bulan terakhir,” ujarnya.

Dalam catatan sejarah politik nasional, Prof. Burhanuddin menyebut bahwa Golkar pada 2014 menjadi partai terakhir yang benar-benar tampil sebagai kekuatan baru di luar arus utama, sementara setelahnya lebih banyak muncul partai-partai hasil fragmentasi dari kekuatan lama.

Menutup pemaparannya, Prof. Burhanuddin menegaskan pentingnya identitas dan keberanian politik Partai Buruh.

“Partai ini harus tampil sebagai partai baru, dengan AD/ART baru, semangat baru, dan keberanian untuk memutus kejumudan serta kebiasaan buruk politik lama. Itulah yang harus ditawarkan kepada publik,” pungkasnya.

Pos terkait