Jakarta, KPonline — Presiden Finnish Industrial Union Finlandia, Riku Aalto, menyampaikan sambutan penuh solidaritas dalam pembukaan Kongres VII FSPMI pada Minggu (8/2/2026) di Mercure Convention Centre Ancol Jakarta. Dalam penyampaiannya, Riku Aalto menegaskan pentingnya persatuan gerakan buruh global di tengah ancaman kebijakan yang melemahkan hak-hak pekerja.
Riku menjelaskan bahwa Finnish Industrial Union merupakan serikat pekerja terbesar di Finlandia dengan anggota sekitar 200 ribu orang dari total populasi 5,5 juta jiwa. Ia juga mengingatkan bahwa hubungan kerja sama antara serikat buruh Finlandia dan FSPMI telah terjalin selama lebih dari 20 tahun.
“Selama kerja sama itu, kami melihat banyak capaian penting yang berhasil diperjuangkan kawan-kawan FSPMI, mulai dari BPJS, jaminan sosial, hingga upah sektoral,” ujarnya.
Namun demikian, ia menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi gerakan buruh di Indonesia, yakni hadirnya Undang-Undang Omnibus Law. Menurutnya, persoalan tersebut memiliki kemiripan dengan situasi yang terjadi di Eropa, termasuk di Finlandia.
“Saat ini Finlandia juga dipimpin oleh pemerintahan sayap kanan. Mereka mendorong kebijakan yang melemahkan undang-undang ketenagakerjaan. Ini situasi yang serupa dengan apa yang dihadapi buruh di Indonesia,” tegasnya.
Riku menekankan bahwa hal terpenting adalah memahami apa yang sedang dilakukan pemerintah terhadap regulasi ketenagakerjaan serta memastikan serikat pekerja tetap konsisten memperjuangkan isu dan hak-hak buruh.
“Oleh karena itu, kita harus terus memperkuat persatuan. Tantangan ke depan tidak ringan, dan hanya dengan kebersamaan kita bisa menghadapinya,” katanya.
Di akhir sambutannya, Riku Aalto menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terselenggaranya Kongres FSPMI. Ia menutup dengan pesan solidaritas yang kuat.
“Kita harus ingat satu hal: kita akan lemah jika sendiri, dan kita akan kuat jika bersama. Solidaritas untuk kita semua,” pungkasnya.