Purwakarta, KPonline-Pimpinan Pusat (PP) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) menggelar rapat rutin (Ratin) yang tak sekadar administratif. Forum ini menjadi momentum evaluasi, penegasan sikap, sekaligus pengingat bahwa organisasi buruh tidak boleh berjalan tanpa rel aturan yang jelas.
Bertempat di ruang Training Center Kantor Konsulat Cabang (KC) FSPMI Purwakarta. Senin,2 Maret 2026 menjadi saksi sebuah forum serius yang membedah jantung organisasi, yaitu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Setelah Kongres dan Munas serta di tengah tantangan gerakan buruh yang kian kompleks. Mulai dari persoalan hubungan industrial hingga dinamika internal organisasi, AD/ART bukan sekadar dokumen. Ia adalah kompas.
Dalam forum tersebut, para pengurus membedah pasal demi pasal. Mulai dari mekanisme pengambilan keputusan, struktur kepemimpinan, kewenangan pengurus, hingga hak dan kewajiban anggota.
Supriyadi, Wakil Ketua Umum (Waketum) menyampaikan bahwa organisasi sebesar SPAMK tidak boleh berjalan hanya berdasarkan kebiasaan. Semua harus kembali pada AD/ART. Kalau aturan dilanggar, organisasi bisa goyah.
Menurutnya, pernyataan itu bukan tanpa alasan. Dalam sejarah gerakan serikat pekerja, lemahnya disiplin organisasi sering menjadi celah konflik internal. Perbedaan tafsir, kepentingan personal, hingga ego sektoral kerap muncul ketika aturan tak lagi dijadikan rujukan utama.
Karena itu, rapat rutin ini menjadi ajang konsolidasi ideologis sekaligus struktural.
Sebagai bagian dari FSPMI, menurut Supriyadi, SPAMK memegang peran strategis dalam sektor otomotif, mesin, dan komponen. Sektor ini bukan sektor kecil. Ia adalah tulang punggung industri manufaktur nasional.
“Ketika organisasi di sektor strategis ini goyah, dampaknya bukan hanya internal. Soliditas perjuangan bisa melemah. Dan dalam dunia hubungan industrial, kelemahan sekecil apa pun bisa dimanfaatkan pihak lain,” ujarnya.
Dipilihnya Kantor KC FSPMI Purwakarta sebagai lokasi rapat bukan tanpa makna. Purwakarta dikenal sebagai salah satu basis industri manufaktur di Jawa Barat. Konsolidasi di wilayah ini menjadi simbol bahwa penguatan organisasi dimulai dari basis.
Kantor KC yang selama ini menjadi ruang koordinasi berbagai PUK (Pimpinan Unit Kerja) di wilayah Purwakarta kembali menjadi pusat perumusan arah gerakan.
Diskusi berlangsung terbuka dalam rapat. Kritik disampaikan. Evaluasi dilakukan. Namun satu benang merah terlihat jelas, yaitu sebuah komitmen menjaga marwah organisasi.