Pilar Perjuangan yang Tak Sekadar Menulis, tetapi Menjaga Suara FSPMI

Pilar Perjuangan yang Tak Sekadar Menulis, tetapi Menjaga Suara FSPMI

Tangerang, KPonline-Pasca-Kongres VII dan Musyawarah Nasional (Munas) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang berlangsung di Jakarta pada Februari 2026, pembaruan kepengurusan Media Perdjoeangan dilakukan mulai dari tingkat nasional hingga daerah. Dan sebagai salah satu pilar organisasi, Media Perdjoeangan dituntut terus memperkuat gerakan dan menyelaraskan langkah dengan arah perjuangan FSPMI.

Pembaruan tersebut diwujudkan melalui Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus) Media Perdjoeangan Daerah Tangerang Raya, yang dirangkai dengan Inauguration Pengurus dan Anggota Media Perdjoeangan serta Jamkeswatch periode 2026-2031yang diselenggarakan di Rumah Makan Remaja Kuring, Tangerang, Minggu (18/10/2026).

Bacaan Lainnya

Pimpinan Redaksi Media Perdjoeangan (KPonline), Kahar S. Cahyono, dalam sambutannya mengingatkan kembali hakikat keberadaan Media Perdjoeangan sebagai salah satu pilar FSPMI.

Menurutnya, pilar bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Pilar hadir untuk menopang, memperkuat, dan memastikan perjuangan ini tetap berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan dunia ketenagakerjaan.

“Pilar itu adalah penguat. Pilar itu tidak berdiri sendiri. Tugas Media Perdjoeangan adalah memperkuat perjuangan FSPMI,” ujar Kahar.

Ia menegaskan, tugas Media Perdjoeangan bukan sekadar memproduksi berita atau mengisi ruang publik dengan tulisan. Lebih dari itu, media organisasi memiliki tanggung jawab untuk menyebarluaskan berbagai kebaikan, kerja, dan perjuangan yang dilakukan FSPMI.

“Karena ini adalah pilarnya FSPMI, tugas Media Perdjoeangan adalah untuk menyebarluaskan kebaikan-kebaikan yang dibuat oleh FSPMI,” ungkapnya.

Kahar juga mengingatkan bahwa Media Perdjoeangan tidak memiliki agenda perjuangan yang terpisah dari organisasi. Pikiran, agenda, dan langkah media harus berjalan seiring dengan perjuangan FSPMI.

“Kita adalah kepanjangan tangan dari suara FSPMI,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi sebuah penegasan bahwa setiap berita, foto, video, dan informasi yang dipublikasikan bukan semata-mata karya jurnalistik, melainkan juga bagian dari upaya mengabadikan perjalanan perjuangan kaum buruh.

Sebab dibalik setiap tulisan, ada suara pekerja yang ingin didengar. Dibalik setiap foto, ada peristiwa yang layak dikenang.

Perjuangan yang tidak diceritakan berisiko dilupakan. Sementara perjuangan yang terdokumentasi dapat menjadi pelajaran, menyebarkan semangat, dan menghubungkan satu barisan dengan barisan lainnya.

Intinya, Media Perdjoeangan memiliki tugas untuk menjaga agar kisah-kisah itu tidak hilang dan berhenti.

Ketika buruh bergerak, media mencatat. Ketika buruh berjuang, media menyuarakan. Dan ketika perjuangan menghadapi tantangan, media hadir untuk memperkuat barisan melalui informasi yang bertanggung jawab.

Singkatnya, menjadi bagian dari Media Perdjoeangan bukan semata-mata tentang siapa yang paling lantang berbicara atau paling banyak menghasilkan berita. Ini tentang kesediaan untuk mengabdi, menjaga kepercayaan, dan memastikan bahwa setiap kata tetap berada di jalur perjuangan.

Pos terkait