Perpecahan yang Hampir Menggagalkan Sejarah di Detik-Detik Kongres Saat Itu

Perpecahan yang Hampir Menggagalkan Sejarah di Detik-Detik Kongres Saat Itu
Foto ilustrasi | by Goggle

Purwakarta, KPonline-Pada Oktober 1928. Saat itu, disebuah bangunan sederhana di Jalan Kramat Raya 106, para pemuda dari berbagai organisasi berkumpul. Mereka datang membawa semangat yang sama, membicarakan masa depan tanah air tetapi dengan latar belakang yang berbeda dan, lebih penting lagi, dengan identitas yang terpisah.

Ada wakil Jong Java, Jong Sumatra Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, hingga organisasi pemuda lainnya. Pada masa itu, organisasi berbasis kedaerahan adalah hal lazim. Namun justru di situlah masalah besar pergerakan muncul.

Mereka sama-sama anti kolonialisme. Tetapi belum benar-benar satu barisan.

Lebih jauh, catatan sejarah kongres pada saat itu menunjukkan bahwa forum tersebut tidak berlangsung dalam suasana romantik persatuan seperti yang sering dibayangkan hari ini. Perbedaan pandangan sangat nyata.

Isu paling sensitif saat itu adalah:

• Gagasan tentang bangsa Indonesia
• Penggunaan bahasa persatuan
• Peleburan identitas kedaerahan

Sebagian peserta masih kuat memegang identitas organisasi dan kultural masing-masing. Tidak semua langsung sepakat dengan ide satu bangsa dan satu bahasa. Kekhawatiran muncul: apakah identitas daerah akan terpinggirkan?

Diskusi berlangsung keras. Ini bukan sekadar forum seremonial, melainkan arena tarik-menarik gagasan.

Pada akhir 1920-an, Hindia Belanda memang dipenuhi organisasi pergerakan. Namun kolonialisme belum benar-benar terguncang. Salah satu penyebab yang banyak dibahas dalam kajian sejarah adalah belum solidnya konsolidasi nasional.

Pergerakan masih terpecah:

• Organisasi berbeda.

• Basis berbeda.

• Identitas berbeda.

Belanda menghadapi banyak kelompok, tetapi tidak satu kekuatan kolektif yang utuh.

Para pemuda di kongres menyadari hal ini. Perpecahan bukan lagi persoalan simbolik, melainkan hambatan strategis perjuangan.

Kemudian, ditengah perdebatan, lahir kesadaran krusial. Jika sekat dipertahankan, gerakan akan lemah. Jika persatuan gagal, perjuangan akan terpecah.

Keputusan besar akhirnya diambil. Para peserta menyepakati rumusan yang kelak mengguncang arah sejarah:

– Satu Nusa: Menolak batas kedaerahan
– Satu Bangsa: Menolak identitas terpisah
– Satu Bahasa: Membangun alat pemersatu

Inilah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dan mengapa ini bisa dikatakan penting secara historis. Karena peristiwa ini bukan sekadar deklarasi idealisme pemuda. Ia adalah solusi atas persoalan nyata pergerakan: perpecahan identitas dan fragmentasi organisasi.

Sejarawan mencatat bahwa setelah momentum tersebut, gagasan kebangsaan Indonesia mengalami percepatan. Bahasa Indonesia memperoleh legitimasi politik. Kesadaran kolektif lintas daerah menguat. Persatuan menjadi kerangka perjuangan.

Dari hal ini, pelajaran yang terbaca sangatlah jelas. Dimana, Kongres Pemuda II memberi pesan historis yang sangat konkret, yakni Pergerakan yang terpecah sulit menjadi kekuatan politik.

Kemudian, Persatuan lahir bukan karena tidak ada perbedaan, tetapi karena perbedaan tidak dibiarkan memecah barisan.

Tanpa konsensus 1928, sejarah nasional Indonesia kemungkinan besar berjalan jauh lebih lambat.

Sejarah mencatat satu kenyataan yang tegas dari peristiwa itu bahwa perpecahan hampir menjadi penghalang dan Persatuan menjadi jalan keluar.