Perpecahan Adalah Kekalahan: Catatan Ketua FSPMI Purwakarta

Perpecahan Adalah Kekalahan: Catatan Ketua FSPMI Purwakarta
Foto: Ilustrasi | by omponk

Purwakarta, KPonline-Di dalam sebuah organisasi besar, perbedaan pandangan sejatinya bukanlah badai, melainkan angin yang menandakan hidupnya dialektika. Ia adalah tanda bahwa pikiran masih bekerja, bahwa nurani belum membeku. Terlebih dalam tubuh organisasi besar serikat pekerja, perbedaan mestinya dipahami sebagai kekayaan sikap, bukan bibit permusuhan.

Namun, sejarah kerap mengajarkan ironi. Ego pribadi, yang seharusnya dikesampingkan demi kepentingan bersama, justru acap kali menyelinap ke ruang-ruang diskusi. Ia berbisik pelan, mengeras perlahan, lalu menjelma tembok tak kasatmata. Ketika ego mulai duduk di kursi utama, organisasi pelan-pelan kehilangan giroh—semangat yang dulu menyala, kini meredup di antara prasangka dan ketersinggungan.

Perpecahan bukan sekadar retaknya hubungan antarindividu. Ia adalah luka struktural. Begitu garis persatuan terbelah, yang tersisa bukanlah dua kekuatan besar, melainkan serpihan-serpihan kecil yang rapuh. Dalam keterpecahan, kekuatan massa menyusut, kekuatan keuangan melemah, pengaruh menipis, arus informasi tersendat, dan daya tawar kebijakan perlahan menguap. Solidaritas, yang dahulu menjadi tameng, berubah menjadi gema yang nyaris tak terdengar.

Perpecahan adalah kekalahan. Sebab di baliknya selalu ada korban. Tak ada pihak yang sungguh diuntungkan. Ketika barisan terurai, tekanan yang dulu tertahan segera menemukan celah. Lawan yang sebelumnya diam mulai bergerak. Mereka tak perlu menyerang keras, cukup menunggu rapuhnya pertahanan dari dalam.

Dampaknya nyata, bukan sekadar wacana. Akan ada rekan seperjuangan yang kehilangan pekerjaan. Akan ada keluarga yang terdampak. Akan ada masa depan yang dipertaruhkan hanya karena ketidakmampuan menundukkan kepentingan pribadi. Perpecahan membuat yang besar menjadi kecil, dan yang kecil terlalu mudah untuk dikalahkan oleh keadaan.

Organisasi besar dibangun bukan dengan keseragaman, melainkan dengan kedewasaan. Berbeda bukan alasan untuk berjarak. Berseberangan bukan alasan untuk saling meniadakan. Disanalah kebesaran diuji. Mampukah menempatkan tujuan kolektif di atas ego individual.

Kini, pilihan selalu ada di tangan mereka yang berada di dalamnya. Terus larut dalam retak, atau kembali merajut erat. Mengedepankan amarah, atau merawat persaudaraan. Karena pada akhirnya, hanya persatuan yang mampu menjaga marwah, melindungi anggota, dan memastikan perjuangan tetap memiliki arah.

Mari bersama. Tetap bersatu. Berpegang erat seperti dahulu. Sebab hanya dengan itulah organisasi tetap berdiri tegak, tak tercerai-berai oleh ego yang sesaat, dan tak terkalahkan oleh tekanan yang datang kemudian.

*Sumber: Catatan Fuad BM, Ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI)