Pendiri FSPMI H. Sulaeman Ibrahim Kobarkan Semangat Perjuangan di Munas VI SPPJM FSPMI

Pendiri FSPMI H. Sulaeman Ibrahim Kobarkan Semangat Perjuangan di Munas VI SPPJM FSPMI

Jakarta, KPonline – Pendiri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) sekaligus Pengurus Pusat (PP) SPPJM FSPMI, H. Sulaeman Ibrahim, memberikan sambutan penuh semangat dan refleksi perjuangan dalam Musyawarah Nasional (Munas) VI SPPJM FSPMI yang digelar di Ruangan Nirwana 1, Hotel Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara.

Sebelum menyampaikan sambutan, H. Sulaeman Ibrahim terlebih dahulu membakar semangat peserta Munas dengan memperkenalkan yel-yel baru SPPJM FSPMI, yang disambut antusias oleh seluruh peserta:

Bacaan Lainnya

“SPPJM… bergerak!

SPPJM… bersinergi!

SPPJM… wujudkan SPPJM kuat!”

Yel-yel tersebut, menurutnya, bukan sekadar seruan semangat, tetapi memiliki makna ideologis yang dalam. Ia menegaskan bahwa SPPJM FSPMI harus bergerak dan bersinergi untuk menjadi organisasi yang kuat, dengan kader-kader yang tangguh, maju, bersatu, dan membangun sinergi positif dalam perjuangan serikat pekerja.

Dalam sambutannya, H. Sulaeman Ibrahim mengingatkan bahwa tantangan perjuangan kaum buruh ke depan akan semakin berat dan kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya.

“Dulu kita berhadapan dengan pemerintah yang kelihatan tidak bersimpati kepada kita. Sekarang musuh kita bukan hanya kelihatan, tapi semakin nyata dan sistematis,” tegasnya.

Ia menyebut bahwa tantangan yang dihadapi buruh saat ini tidak hanya datang dari satu arah, melainkan dari oligarki, kapitalisme, hingga sosial birokrat yang menurutnya telah menjadi penghambat perjuangan kelas pekerja.

“Musuh yang kita hadapi hari ini adalah oligarki, kapitalisme, bahkan sosial birokrat. Kenapa ini terjadi? Karena kita sebenarnya pernah salah jalan,” ujarnya dengan nada reflektif.

Lebih lanjut, H. Sulaeman Ibrahim mengajak seluruh kader dan peserta Munas VI SPPJM FSPMI untuk meluruskan kembali arah perjuangan, memperkuat persatuan, serta membangun kesadaran ideologis agar organisasi tidak mudah terjebak dalam kompromi yang melemahkan gerakan buruh.

Ia menegaskan bahwa Munas bukan sekadar forum formal organisasi, melainkan momentum konsolidasi, koreksi arah, dan penguatan militansi kader, khususnya di sektor perkapalan dan jasa maritim yang memiliki tantangan besar di tengah sistem ekonomi kapitalistik.

Sambutan tersebut menjadi pengingat kuat bahwa SPPJM FSPMI lahir dari semangat perlawanan dan persatuan, dan hanya dengan bergerak bersama serta bersinergi secara positif, organisasi dapat tetap kuat dan relevan dalam memperjuangkan kepentingan kaum buruh Indonesia.

Pos terkait