Jakarta, KPonline-Aroma pengkhianatan terhadap industri otomotif nasional tercium menyengat di hidung rakyat pekerja. Karena itu, ratusan massa buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Partai Buruh lakukan aksi unjuk rasa di Kantor Kemenaker RI, Jakarta. Rabu, (4/3/2026) dengan satu narasi besar yaitu hentikan impor 105.000 kendaraan pick-up dari India.
Saat dikonfirmasi Media Perdjoeangan disela-sela aksi, Suryadi Gurning sebagai Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) FSPMI PT. Hino Motors Manufacturing Indonesia dan sekaligus Bendahara KC FSPMI Purwakarta pun terang-terangan menuding ada permainan kotor di balik 105.000 unit pick-up yang dipesan pemerintah lewat Agrinas untuk keperluan koperasi desa merah putih.
Suryadi menegaskan bahwa alasan efisiensi harga yang sering didengungkan pemerintah hanyalah omong kosong belaka. Menurutnya, industri otomotif dalam negeri sudah sangat mumpuni untuk memproduksi kendaraan angkut berkualitas tinggi.
“Masalahnya bukan harga, tapi masalah kepentingan orang yang ingin ambil keuntungan sendiri atau untuk golongannya! Ini aneh, kita bisa buat sendiri, tapi kenapa pemerintah malah ambil dari luar?” tegas Suryadi.
Ia mencium adanya indikasi bahwa regulasi sengaja ditekuk untuk memuluskan jalan bagi produk asing sehingga produk lokal kehilangan daya saing di tanah airnya sendiri.
Narasi yang dilemparkan Suryadi bukan tanpa alasan. Setiap unit pick-up impor yang masuk adalah satu langkah lebih dekat menuju gerbang PHK Massal bagi buruh otomotif Indonesia.
“Kita harus bijak! Jangan sampai demi keuntungan segelintir elit, industri kita hancur dan buruh kita di-PHK. Indonesia punya segalanya, kenapa harus mengemis ke produk luar?” pungkasnya.