Pangkornas Garda Metal: Kalau Tak Mau Berjuang Silakan Turun, Tapi Jangan Bocorkan Kapalnya

Pangkornas Garda Metal: Kalau Tak Mau Berjuang Silakan Turun, Tapi Jangan Bocorkan Kapalnya

Purwakarta, KPonline-Konsolidasi organisasi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Kantor Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta pada Selasa (4/3/2026) berubah menjadi panggung penegasan sikap. Dimana, Panglima Koordinator Nasional (Pangkornas) Garda Metal FSPMI, Supriyadi dalam pidatonya tak sekadar menyampaikan sambutan. Tetapi juga mengeluarkan peringatan: jangan ada lagi friksi, jangan ada dendam, dan jangan ada yang merusak kapal besar bernama FSPMI dari dalam.

“Kalau tak mau berjuang bersama, silakan turun dari kapal besar ini. Tapi jangan dibocorkan kapalnya,” tegasnya.

Diawal sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur karena kembali diberi amanah dalam struktur organisasi. Tahun ini, tanggung jawabnya bahkan semakin besar. Selain tetap dikenal sebagai Pangkornas Garda Metal, ia kini juga menjabat Wakil Ketua Umum di kepengurusan Pimpinan Pusat sektor Automotif Mesin dan Komponen (PP-SPAMK).

Ia menjelaskan bahwa jajaran pimpinan sektor telah menuntaskan berbagai agenda strategis, mulai dari pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), penyelesaian empat komisi, hingga aturan organisasi dan pembiayaan di tingkat pusat.

“Semua sudah selesai. Tidak ada lagi alasan untuk memperdebatkan yang kemarin. Sekarang waktunya bekerja,” ujarnya.

Konsolidasi ini, menurutnya, adalah momentum pasca Kongres dan Munas tahun 2026 untuk memastikan seluruh struktur, dari pusat hingga cabang, kembali satu komando.

FSPMI berdiri sejak 1999. Artinya, organisasi ini telah menginjak usia 27 tahun. Sebuah usia yang tidak singkat untuk organisasi buruh di Indonesia.

“Ada empat hal yang membuat kita kuat selama 27 tahun,” katanya.

• Anggota yang kuat.

• Solidaritas yang kuat.

• Militansi dan pengorbanan diri.

• Kepemimpinan yang kuat.

“Bandingkan dengan organisasi lain. Lima tahun sudah pecah. Sepuluh tahun sudah retak. Kita 27 tahun tetap berdiri. Karena empat hal itu,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa dalam Kongres dan Munas perbedaan pendapat adalah hal wajar. Tetapi setelah keputusan diambil, tidak boleh ada lagi kubu-kubuan.

“Sudah selesai. Jangan lagi bicara siapa pilih siapa. Rumah besar ini yang harus kita jaga,” tegasnya.

Menurutnya, seluruh pimpinan pusat, mulai dari Ketua Umum, Sekretaris Umum, hingga tujuh sektor federasi, telah menyatakan komitmen tegak lurus terhadap hasil Kongres dan Munas.

Kini, ia meminta sikap yang sama dari pimpinan cabang dan konsulat cabang.

“Saya yakin kawan-kawan di Purwakarta dan wilayah lain akan tegak lurus. Jangan ada lagi tarik-menarik kepentingan,” katanya.

Ia bahkan secara terbuka mengajak kader yang sempat berbeda pilihan untuk kembali.

“Ajak kembali yang masih mau berjuang dengan hati. Kalau ada yang berjuang karena kepentingan pribadi, organisasi ini akan memisahkan secara alami,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya tidak menyimpan dendam pasca kontestasi organisasi. Ia mengambil pelajaran dari Perang Uhud dan sikap Rasulullah saat Fathu Makkah.

Ia menyebut kisah gugurnya Hamzah bin Abdul Muttalib yang dibunuh oleh Wahsyi atas perintah Hindun. Namun saat Makkah dibebaskan, tidak ada balas dendam.

“Tidak ada telinga dipotong. Tidak ada hidung dipotong. Bahkan Wahsyi akhirnya masuk Islam,” katanya.

Pesan moralnya jelas, yakni perjuangan tidak boleh kalah oleh dendam.

Ia juga menyinggung sosok Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka.

Hamka pernah dipenjara pada masa pemerintahan Soekarno tanpa pengadilan. Ia juga pernah dikritik keras oleh Pramoedya Ananta Toer terkait karya sastra Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Namun Hamka tidak membalas dengan dendam.

Bahkan ketika Soekarno wafat, Hamka yang diminta memimpin salat jenazahnya. “Itulah pelajaran. Jangan ada dendam politik di organisasi. Pemilihan sudah selesai,” tegasnya.

Tak hanya bicara soal internal, Pangkornas Garda Metal juga menyinggung isu eksternal yang dinilai mengancam pekerja industri dalam negeri.

Ia menyebut adanya isu impor truk dari India dengan nilai besar. Menurutnya, kebijakan semacam itu bisa berdampak pada keberlangsungan industri nasional.

“Memangnya tidak ada produk dalam negeri? Ada Hino dan lainnya. Ada pabriknya, ada karyawannya. Kalau beli dari luar, buruh kita terancam,” katanya.

Baginya, perjuangan FSPMI ke depan bukan sekadar menjaga soliditas internal, tetapi juga melindungi industri nasional dari kebijakan yang tidak berpihak pada pekerja.

Menutup sambutannya, ia kembali menegaskan bahwa konsolidasi ini bukan seremoni, melainkan penegasan sikap.

• Jangan pecah karena ego.

• Jangan simpan dendam karena kalah pilihan.

• Jangan rusak rumah sendiri.

• Fokus pada ancaman nyata terhadap buruh.

“Masih banyak yang berharap pada kapal besar ini. Kalau tidak mau berjuang, silakan turun. Tapi jangan bocorkan kapalnya,” ulangnya.