Pabrik di Purwakarta Bertambah: Investasi Triliunan di Tengah Isu Upah Tinggi

Pabrik di Purwakarta Bertambah: Investasi Triliunan di Tengah Isu Upah Tinggi

Purwakarta, KPonline-Di tengah polemik upah minimum yang mewarnai akhir 2025 hingga awal 2026, dunia ketenagakerjaan Indonesia kembali dihadapkan pada ironi klasik. Buruh masih berjuang menuntut upah layak, sementara ekspansi industri terus melaju tanpa rem.

Saat buruh bersama serikat pekerja dan serikat buruh (SP/SB) di Kabupaten Purwakarta turun ke jalan menagih janji kesejahteraan, PT. Tata Metal Lestari justru menancapkan tonggak baru pertumbuhan industri baja nasional. Perusahaan tersebut resmi memulai pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 di Purwakarta, Jawa Barat, yang ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Senin (26/1/2026).

VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, menyatakan bahwa pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat industri antara (mid stream) baja nasional yang selama ini menjadi tulang punggung rantai pasok industri.

“Industri antara memiliki peran krusial sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir. Tanpa sektor ini yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” ujar Stephanus dalam keterangan persnya.

Fasilitas baru ini ditargetkan mampu memproduksi 250.000 ton baja lapis per tahun, melengkapi kapasitas produksi sebelumnya dari CGL 1 di Cikarang, Bekasi, yang telah menghasilkan 250.000 ton per tahun. Dengan demikian, total produksi PT Tata Metal Lestari akan mencapai 500.000 ton baja lapis per tahun.

Namun, dibalik optimisme angka produksi dan teknologi, muncul pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah pertumbuhan industri ini tidak terpengaruh dengan isu upah? Padahal, menurut publik selama ini, upah pekerja di Purwakarta di kategorikan tinggi.

CGL 2 merupakan bagian dari peta jalan jangka panjang perusahaan untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis dalam 10 tahun ke depan, sekaligus mendukung Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan penguatan produk baja “Made in Indonesia” berstandar global. Saat ini, PT Tata Metal Lestari bahkan telah mengekspor baja lapis ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.

Dalam proyek ini, perusahaan menggandeng Tenova, perusahaan teknologi asal Italia, guna memastikan penerapan teknologi mutakhir yang diklaim efisien dan ramah lingkungan. Stephanus menegaskan bahwa investasi ini sejalan dengan komitmen menuju industri hijau dan target net-zero emission.

“Investasi ini juga menjadi bukti keseriusan kami dalam mendukung transformasi menuju industri hijau melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi,” tambahnya.

Tak hanya itu, proyek CGL 2 disebut-sebut akan membawa multiplier effect bagi daerah. Dengan total investasi lanjutan mencapai Rp1,5 triliun, proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 350 tenaga kerja baru serta menggerakkan ekonomi lokal Purwakarta dan Jawa Barat.

“Proyek kami ini merupakan line pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, sehingga mampu meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali,” pungkas Stephanus.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan dukungannya terhadap penguatan industri baja nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri baja sebagai sektor strategis penopang pembangunan nasional.

“Industri baja nasional memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti otomotif, permesinan, galangan kapal, dan sektor energi,” ujarnya.

Kemenperin mencatat, produksi baja nasional dalam lima tahun terakhir melonjak hampir 98,5 persen dibandingkan 2019 yang berada di angka 8,5 juta ton. Berbagai kebijakan pun terus digelontorkan, mulai dari pengamanan perdagangan, SNI wajib, Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), insentif fiskal, hingga penerapan prinsip industri hijau.