Mogok Buruh di Jerman, Transportasi Umum Lumpuh Total

Mogok Buruh di Jerman, Transportasi Umum Lumpuh Total

Jerman, KPonline-Layanan transportasi umum di sebagian besar wilayah Jerman lumpuh total. Kereta bawah tanah berhenti, bus tak beroperasi, trem menghilang dari jalanan kota. Aktivitas warga terganggu besar-besaran akibat aksi mogok nasional yang digelar serikat buruh sektor jasa, Verdi, sejak Senin (2/2).

Mogok ini bukan aksi spontan. Ia lahir dari akumulasi kemarahan para pekerja transportasi umum yang selama bertahun-tahun merasa beban kerja terus meningkat, sementara kesejahteraan tak kunjung membaik. Verdi menuntut pengurangan jam kerja, peningkatan bonus shift malam dan akhir pekan, serta kenaikan gaji sekitar 10 persen di sejumlah negara bagian.

“Kami harus melakukan mogok demi kondisi kerja yang lebih baik. Jika tidak, pekerjaan ini akan terus dianggap tidak menarik seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir,” tegas juru bicara Verdi, Andreas Schackert, kepada stasiun televisi publik ZDF, seperti dikutip AFP.

Serikat Verdi mengerahkan hampir 100.000 pekerja dari sekitar 150 perusahaan transportasi untuk ikut serta dalam aksi ini. Dampaknya terasa masif. Hampir seluruh negara bagian Jerman terdampak, kecuali Lower Saxony. Kota-kota besar seperti Berlin praktis lumpuh, memaksa warga mencari alternatif transportasi yang belum tentu tersedia.

Meski kereta jarak jauh dan regional masih beroperasi, kenyataannya moda tersebut tidak selalu bisa diandalkan sebagai solusi. Bahkan di beberapa wilayah, layanan yang secara resmi tidak termasuk dalam aksi mogok tetap tidak berjalan.

Seorang mahasiswa Berlin, Luis Hermann (23), mengaku terdampak langsung. Layanan S-Bahn regional di wilayahnya tidak beroperasi, meski tidak tercatat sebagai bagian dari mogok.

“Ada pekerjaan perbaikan di jalur itu, dan ditambah mogok juga. Cukup mengganggu,” ujar Hermann kepada AFP.
Ia menambahkan, perjalanan ke perpustakaan yang biasanya hanya memakan waktu 30 menit kini membengkak menjadi satu jam.

Aksi mogok ini menjadi kelanjutan dari gelombang mogok sektor publik yang terjadi bulan lalu. Serikat buruh di Jerman terus memperingatkan pemerintah dan pengusaha soal krisis tenaga kerja, tekanan biaya hidup, serta melemahnya daya beli pekerja. Mogok transportasi menjadi simbol perlawanan: ketika tuntutan diabaikan, roda kota pun dipaksa berhenti.

Namun tidak semua pihak sepakat dengan cara tersebut. Operator transportasi umum Berlin, BVG, menilai aksi mogok ini “berlebihan” dan mendesak Verdi kembali ke meja perundingan.

Di sisi lain, suara pengguna jasa pun terbelah. Seorang konsultan, Frank Ewert (52), mengaku memahami tuntutan buruh, namun tak menutupi kekesalannya sebagai penumpang.

“Saya bisa memahami upaya orang-orang untuk memperkuat posisi mereka dan menuntut kenaikan dari perusahaan,” katanya. “Namun dampaknya justru dirasakan oleh kami sebagai pengguna layanan BVG.”

Mogok nasional ini sekali lagi menegaskan satu pesan penting. Ketika pekerja merasa diperas dan tak didengar, maka yang dikorbankan bukan hanya produktivitas, tetapi juga kenyamanan publik. Jerman pun kini dihadapkan pada situasi sulit yakni memperbaiki kondisi kerja buruh transportasi, atau terus membiarkan kota-kotanya lumpuh oleh konflik industrial yang tak kunjung selesai.