Merlin Sanjaya Bekali Tim Media PUK SAMI TF Pengetahuan Dasar Fotografi

Merlin Sanjaya Bekali Tim Media PUK SAMI TF Pengetahuan Dasar Fotografi

Kab. Semarang, KPonline — Kemampuan menghasilkan dokumentasi yang baik menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pengelolaan media organisasi. Hal tersebut menjadi salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan Upskilling Tim Media & Media Creative Day Bidang VI Infokom dan Pekerja Muda PUK SPAMK FSPMI PT SAMI TF, Minggu (27/9/2026).

Dalam kegiatan yang berlangsung di Masela Studio, Kabupaten Semarang tersebut, Merlin Sanjaya dari Bidang VI Infokom dan Pekerja Muda memberikan materi Pengetahuan Dasar Fotografi kepada Tim Media Perdjoeangan PUK SPAMK FSPMI PT SAMI TF.

Merlin menjelaskan bahwa salah satu dasar penting dalam fotografi adalah memahami segitiga exposure, yaitu tiga komponen yang saling berinteraksi dalam mengatur cahaya yang masuk ke kamera.

Ketiga komponen tersebut adalah shutter speed, aperture, dan ISO. Pemahaman terhadap ketiganya menjadi dasar bagi fotografer untuk menentukan pencahayaan yang sesuai dalam menghasilkan sebuah foto.

Pada materi pertama, Merlin menjelaskan mengenai shutter speed atau kecepatan rana. Shutter speed berkaitan dengan durasi sensor kamera terbuka dan menerima cahaya.

Kecepatan rana yang rendah, seperti 1/4 detik hingga 1/60 detik, dapat menangkap lebih banyak cahaya, tetapi memiliki risiko menghasilkan foto yang blur apabila kamera atau objek bergerak. Sementara shutter speed yang lebih tinggi, mulai 1/125 detik hingga 1/1000 detik atau lebih, dapat digunakan untuk membekukan objek yang bergerak cepat.

Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan aperture atau bukaan diafragma. Merlin menjelaskan bahwa aperture menentukan besarnya bukaan pada lensa kamera dan berpengaruh terhadap jumlah cahaya yang masuk serta karakter ketajaman gambar.

Bukaan lebar pada kisaran f/1.4 hingga f/4 dapat menghasilkan latar belakang yang blur atau efek bokeh. Sementara bukaan yang lebih kecil pada kisaran f/8 hingga f/22 dapat menghasilkan area fokus yang lebih luas dan ketajaman yang lebih merata.

Materi berikutnya adalah ISO, yaitu tingkat sensitivitas sensor kamera terhadap cahaya. Merlin menjelaskan bahwa penggunaan ISO perlu disesuaikan dengan kondisi pencahayaan.

ISO rendah, seperti 100–400, dapat digunakan ketika kondisi cahaya cukup, misalnya pagi atau siang hari. ISO sedang, 800–1600, dapat digunakan dalam kondisi cahaya yang lebih redup, sedangkan ISO tinggi seperti 6400–12800 dapat digunakan dalam kondisi minim cahaya, seperti malam hari. Penggunaan ISO yang terlalu tinggi juga perlu diperhatikan karena dapat memicu noise pada foto.

Selain tiga komponen tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan indikator exposure atau light meter pada kamera. Indikator tersebut menjadi panduan visual untuk melihat keseimbangan cahaya dalam sebuah pengambilan gambar, mulai dari kondisi underexposure atau terlalu gelap, perfect exposure, hingga overexposure atau terlalu terang.

Melalui materi tersebut, Tim Media tidak hanya diarahkan untuk mampu mengambil gambar, tetapi juga memahami bagaimana pengaturan kamera memengaruhi hasil akhir sebuah foto.

Materi ditutup dengan dorongan agar peserta terus berlatih dan mengeksplorasi fotografi dengan memahami serta mempraktikkan konsep segitiga exposure dalam berbagai kondisi pengambilan gambar.

Pembekalan fotografi ini menjadi salah satu bagian dari upaya Bidang VI Infokom dan Pekerja Muda PUK SPAMK FSPMI PT SAMI TF untuk meningkatkan kemampuan teknis Tim Media, sehingga dokumentasi berbagai aktivitas organisasi dapat dihasilkan dengan kualitas yang semakin baik. (sup)