Australia, KPonline-Lebih dari 1.000 jurnalis dan staf di kantor berita milik pemerintah Australia melakukan aksi mogok kerja selama 24 jam setelah negosiasi panjang soal gaji dan kondisi kerja menemui jalan buntu. Direktur Australian Broadcasting Corporation (ABC), Hugh Marks, secara terbuka meminta maaf kepada audiens dan pekerja setelah aksi tersebut menyebabkan sejumlah program utama tidak dapat mengudara.
Aksi mogok terjadi setelah mayoritas staf menolak tawaran kenaikan gaji terbaru dalam pemungutan suara yang diselenggarakan manajemen. Penolakan itu membuka jalan bagi aksi industrial pertama dalam skala besar di ABC dalam beberapa dekade terakhir.
Siaran ABC terganggu, program BBC menggantikan
Akibat mogok kerja yang berlangsung hingga Kamis (26/03) pukul 11.00 waktu Sydney dan Melbourne, sejumlah program unggulan ABC terpaksa dihentikan sementara.
Program televisi dan radio seperti 7.30, AM, PM, The World Today, dan Radio National Breakfast tidak tayang dan untuk sementara digantikan dengan konten dari BBC.
Meski demikian, pihak manajemen memastikan siaran darurat tetap berjalan untuk menjaga layanan informasi publik.
Direktur ABC, Hugh Marks, mengaku menyesalkan situasi tersebut.
“Atas nama ABC, saya sangat menyesal. Saya juga meminta maaf kepada staf yang berada dalam posisi sulit hari ini,” katanya dalam wawancara radio ABC Sydney.
Ia menambahkan bahwa penggunaan konten BBC dilakukan agar siaran tetap berjalan, meski tidak sesuai dengan standar yang diharapkan.
Tawaran kenaikan gaji dinilai di bawah inflasi
Dalam perundingan terakhir, manajemen ABC menawarkan kenaikan gaji:
• 3,5 persen pada tahun pertama
• 3,25 persen pada dua tahun berikutnya
• Bonus satu kali sebesar A$1.000 untuk staf tetap dan kontrak
Namun, sekitar 60 persen pekerja yang ikut pemungutan suara menolak tawaran tersebut.
Serikat pekerja Media, Entertainment & Arts Alliance (MEAA) menilai tawaran tersebut masih berada di bawah tingkat inflasi, sehingga secara nyata dianggap sebagai penurunan upah.
Juru bicara MEAA, Erin Madeley, mengatakan pekerja sebenarnya tidak ingin mogok, tetapi tekanan biaya hidup membuat mereka tidak punya pilihan.
“Kami sudah menahan diri selama lebih dari 20 tahun. Selama sembilan bulan kami menyampaikan kepada manajemen betapa beratnya tekanan biaya hidup yang dialami anggota kami,” ujarnya.
Masalah kontrak jangka pendek jadi sorotan
Selain gaji, serikat pekerja juga mempersoalkan banyaknya pekerja kontrak jangka pendek dan tenaga lepas di ABC.
Ketua bersama Komite Nasional MEAA ABC, Michael Slezak, menyebut ketergantungan pada pekerja kontrak membuat banyak jurnalis hidup dalam ketidakpastian.
“Banyak pekerja tidak tahu apakah mereka bisa membayar sewa atau cicilan rumah ketika kontrak mereka berakhir,” katanya.
Ia juga menilai sistem jenjang karier di ABC membuat banyak pekerja bertahun-tahun terjebak pada level gaji yang sama meskipun memiliki pengalaman panjang.
Serikat awalnya menuntut kenaikan gaji sebesar 5,5 persen, tetapi kemudian menurunkan tuntutan dalam upaya mencegah mogok kerja.
Manajemen akui masih ada kesenjangan
Direktur ABC mengakui masih terdapat perbedaan besar antara keinginan manajemen dan tuntutan serikat pekerja.
Menurut Hugh Marks, pihaknya sebenarnya memahami kesulitan pekerja, terutama mereka yang berada dalam kontrak jangka pendek atau memiliki batasan gaji sesuai deskripsi pekerjaan.
Namun ia juga menyebut negosiasi menjadi sulit karena kedua pihak belum menemukan titik temu.
“Masih ada kesenjangan antara apa yang diinginkan manajemen dan serikat pekerja,” katanya.
Ia berharap para pekerja tetap bersedia kembali bekerja jika terjadi peristiwa besar yang membutuhkan liputan penting bagi publik Australia.
Aksi mogok tunjukkan pentingnya peran serikat pekerja
Aksi mogok di ABC menunjukkan bahwa bahkan di negara maju seperti Australia, persoalan upah, status kerja, dan jenjang karier tetap menjadi isu utama bagi pekerja media.
Serikat pekerja menilai aksi industri dilakukan sebagai langkah terakhir setelah negosiasi panjang tidak menghasilkan kesepakatan yang adil, sementara manajemen berharap dialog masih bisa dilanjutkan dalam waktu dekat.
MEAA berharap manajemen memanfaatkan waktu setelah aksi mogok untuk benar-benar mendengarkan tuntutan pekerja dan memperbaiki masalah struktural yang selama ini menjadi keluhan.