Semarang, KPonline – Panglima Koordinator Daerah Garda Metal FSPMI Semarang Raya periode 2021–2026, Kurniawan Dwi Prasetyo, mengajak seluruh anggota menjadikan Musyawarah Daerah (MUSDA) IV sebagai momentum evaluasi diri, penguatan organisasi, dan peneguhan komitmen perjuangan buruh.
Hal tersebut disampaikan Kurniawan saat mengawali pelaksanaan MUSDA IV Garda Metal FSPMI Semarang Raya yang berlangsung di Hotel Candi Indah, Semarang, Minggu (18/10/2026). Dalam sambutannya, Kurniawan menyampaikan rasa syukur karena seluruh anggota dan perangkat organisasi dapat berkumpul dalam agenda musyawarah lima tahunan tersebut. Ia menegaskan bahwa MUSDA bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan kesempatan untuk melihat kembali perjalanan kepengurusan, mengevaluasi apa yang telah dilakukan, serta merumuskan langkah yang lebih baik untuk masa mendatang.
“Di sini kita mengevaluasi diri, bagaimana perjalanan kita selama ini, apa yang sudah kita lakukan, dan bagaimana evaluasi kita bersama seluruh anggota serta perangkat organisasi,” ujarnya.
Kurniawan juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh perangkat organisasi yang hadir dan mendukung terselenggaranya MUSDA IV. Apresiasi disampaikan kepada perwakilan Garda Metal, perangkat DPW FSPMI Jawa Tengah, KC FSPMI Semarang Raya, perangkat PC serikat pekerja anggota, serta seluruh pihak yang turut menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, dukungan dari berbagai tingkatan organisasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan musyawarah. Ia juga mengapresiasi terselenggaranya kegiatan di hotel yang dinilainya memberikan suasana berbeda dibandingkan pelaksanaan musyawarah sebelumnya.
Apresiasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa terselenggaranya agenda organisasi membutuhkan kebersamaan, dukungan, dan kerja sama dari banyak pihak.
Dalam sambutannya, Kurniawan memberikan perhatian khusus kepada anggota yang menempuh perjalanan jauh demi menghadiri MUSDA IV. Ia menyinggung kehadiran rekan-rekan yang harus menempuh perjalanan hingga enam jam untuk sampai ke lokasi kegiatan.
Baginya, jarak dan berbagai kendala perjalanan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengendurkan komitmen terhadap organisasi. Kehadiran anggota dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa semangat persatuan dan keinginan untuk membangun organisasi tetap menjadi kekuatan utama Garda Metal.
Kurniawan menegaskan bahwa semangat mewujudkan resolusi tidak diukur dari seberapa dekat jarak seseorang dengan lokasi kegiatan, melainkan dari kesungguhan untuk hadir, terlibat, dan menjalankan tanggung jawab organisasi.
Pesan tersebut selaras dengan tema MUSDA IV yang menekankan pentingnya menunaikan janji, menjalankan lima sikap Garda Metal, serta mewujudkan resolusi dalam tindakan nyata.
Lebih lanjut, Kurniawan berharap MUSDA IV dapat menjadi ruang evaluasi menyeluruh terhadap program kerja yang telah dijalankan selama periode 2021–2026. Evaluasi tersebut diperlukan agar kepengurusan berikutnya dapat mengetahui hal-hal yang perlu dipertahankan, diperbaiki, maupun dikembangkan.
Ia juga menaruh harapan agar seluruh peserta menjadikan tema MUSDA sebagai pedoman dalam menentukan arah gerak organisasi ke depan, terutama dalam membangun kerja bersama dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Menurutnya, apa yang telah dirumuskan dan disepakati dalam musyawarah harus menjadi pijakan bagi seluruh anggota untuk bergerak bersama. Keputusan organisasi tidak boleh berhenti sebagai dokumen, tetapi harus diwujudkan melalui program kerja, konsolidasi, dan keterlibatan nyata anggota dalam perjuangan buruh.
Dalam kesempatan tersebut, Kurniawan turut mengajak peserta mendoakan Sekretaris Jenderal Garda Metal Nasional yang, berdasarkan penyampaiannya, sedang menghadapi kondisi keluarga yang membutuhkan perhatian dan masih menjalani perawatan. Ia berharap yang bersangkutan diberikan kemudahan sehingga dapat kembali menjalankan tugas organisasi dengan baik.
Menutup sambutannya, Kurniawan menyampaikan harapan agar seluruh peserta mengikuti rangkaian MUSDA IV dengan sungguh-sungguh, menjaga kebersamaan, serta mengutamakan kepentingan organisasi.
Pergantian kepengurusan, menurut semangat yang disampaikannya, harus menjadi bagian dari keberlanjutan perjuangan, bukan sekadar pergantian personel. Kepengurusan baru diharapkan mampu meneruskan hal-hal baik yang telah dibangun sekaligus menghadirkan pembaruan yang dibutuhkan organisasi. (sup)