Purwakarta, KPonljne-Setelah menuntaskan agenda konsolidasi organisasi (FSPMI) yang diselenggarakan di Kantor Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta pada Selasa, 3 Maret 2026, Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Aneka Industri (PP SPAI) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) lakukan kunjungan kerja (Kunker).
Kunjungan kerja kali ini adalah ke Pimpinan Cabang (PC) SPAI Purwakarta dan Subang dan menjadi panggung konsolidasi lanjutan yang sarat pesan tentang organisasi yang tidak boleh berjalan setengah hati, dan program pusat tidak boleh kehilangan nyawa di tingkat bawah.
Dalam sambutannya, Ketua PC SPAI FSPMI Purwakarta Hadi Hermawan menegaskan bahwa kunjungan kerja ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum evaluasi nyata.
Ia mengingatkan bahwa hasil Munas kemarin telah melahirkan kepemimpinan baru di bawah Rahmat Binsar. Namun baginya, pergantian kepemimpinan harus diiringi dengan ketaatan terhadap instruksi organisasi dan program yang jelas serta terukur.
“Kita harus sama dan taat terhadap instruksi maupun program-program. Munas sudah selesai. Apapun perbedaan pilihan kemarin, sekarang kita kembali ke rumah kita, SPAI,” tegasnya.
Kemudian, Ia meminta agar sesi diskusi benar-benar dimanfaatkan oleh pengurus PC dan PUK untuk memaparkan kendala riil di lapangan. Terutama karena sidang komisi Munas belum sepenuhnya tuntas dan tim kecil akan segera dibentuk untuk menyusun program kerja serta anggaran.
Baginya, maju mundurnya organisasi tidak ditentukan oleh satu atau dua orang, melainkan oleh seluruh anggota yang ada di dalamnya.
“Baik buruknya rumah ini, kita jalan sama-sama. Maju atau mundurnya organisasi tergantung kita yang di dalamnya,” ujar Hadi Hermawan.
Dikesempatan yang sama, Ketua PC SPAI Subang Dedi Supianto menyebut Munas tahun ini sebagai momentum luar biasa.
“Munas tahun ini sangat luar biasa. Demokrasi yang sebenarnya berjalan,” pungkasnya.
Ia mengakui adanya perbedaan pilihan dalam kontestasi, namun menurutnya itu adalah hal biasa dalam organisasi. Perbedaan bukan ancaman, melainkan dinamika sehat.
Namun setelah demokrasi selesai, kini saatnya disiplin organisasi ditegakkan. Terutama soal iuran atau cos (check of system).
“FSPMI urat nadinya adalah cos. Kalau nggak ada iuran, nggak bisa berkembang,” tegasnya.
Ia mencontohkan pengalaman di Subang yang pernah menghadapi kasus serius. Namun berkat koordinasi dengan pimpinan pusat, persoalan biaya bisa diatasi. Ia berharap kasus serupa tidak terulang.
Bagi Subang, penguatan iuran bukan sekadar soal uang, tapi soal keberlanjutan organisasi. Tanpa iuran aktif, program tak akan berjalan, advokasi melemah, dan pengembangan anggota terhambat.
Meski saat ini baru memiliki enam PUK aktif, ia optimistis jika semua disiplin, SPAI Subang bisa berkembang lebih masif.
Tak kalah penting, Bendahara Umum PP SPAI, Alin Kosasih memaparkan kondisi keuangan organisasi secara terbuka.
Ia menegaskan bahwa di periode ini fokusnya lebih banyak pada penguatan di tingkat nasional, terutama mencari solusi konkret untuk memaksimalkan distribusi dan efektivitas anggaran.