Jakarta, KPonline-Sehari setelah dibuka secara terbuka dan penuh gegap gempita di Sport Mall, Kongres V Partai Buruh hari ini, Selasa (10/1/2026) resmi memasuki giat utama. Bertempat di Boutique Hotel Jakarta, forum tertinggi partai berbasis kelas pekerja itu digelar lebih tertib, lebih sunyi dari sorak, namun justru sarat makna politik: Partai Buruh sedang menunjukkan wajahnya yang kian matang sebagai kekuatan nasional.
Di ruang konferensi pers yang rapi dan tertata, delegasi Exco Partai Buruh dari seluruh kabupaten dan kota se-Indonesia hadir lengkap. Pemandangan ini menjadi sinyal kuat bahwa Partai Buruh tidak lagi sekadar partai aksi jalanan, tetapi telah bertransformasi menjadi organisasi politik dengan struktur, logistik, dan manajemen yang semakin solid.
Ketua FSPMI Purwakarta, Fuad BM, menyebut momentum Kongres V ini sebagai bukti nyata kematangan Partai Buruh, bukan hanya dalam konsolidasi politik, tetapi juga dalam pengelolaan organisasi.
“Di kongres ke-V ini luar biasa. Kemampuan Partai Buruh mendatangkan seluruh Exco se-kabupaten di seluruh Indonesia itu tidak main-main,” ujar Fuad.
Menurutnya, konsistensi ini tidak lahir secara instan. Ia menilai ada proses panjang yang kini mulai menunjukkan hasil nyata, terutama dalam hal tata kelola internal.
“Semakin hari Partai Buruh semakin matang dalam pengelolaan keuangan. Konfederasi dan federasi tetap berjalan dengan baik, Partai Buruh juga berjalan dengan baik. Ini bukan hal mudah,” tegasnya.
Fuad menilai, keberhasilan menjaga keseimbangan antara kerja serikat pekerja dan kerja partai politik adalah tantangan besar yang justru mampu dijawab oleh Partai Buruh. Di tengah banyaknya stigma bahwa partai buruh akan “memakan” peran serikat, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Isu upah pun kembali ditegaskan sebagai jantung perjuangan politik Partai Buruh. Bagi Fuad, konsistensi memilih isu upah sebagai agenda tahunan bukan sekadar strategi elektoral, melainkan cerminan keberpihakan ideologis.
“Insyaallah ke depan Partai Buruh akan semakin kuat dengan isu upah sebagai isu utama setiap tahunnya,” katanya.
Ia juga menyoroti fenomena menarik di ruang publik digital. Nama Partai Buruh, khususnya figur-figur sentralnya, kini menjadi magnet perhatian warganet.
“Ini kenyataannya. Isu Partai Buruh dan serikat buruh sekarang jadi tren topik. Di media sosial, kalau mau cepat viral, cukup angkat berita tentang Said Iqbal dan Suparno, pasti tanggapannya luar biasa,” ujar Fuad lugas.
Fenomena ini, menurutnya, bukan sekadar popularitas sesaat, melainkan tanda bahwa isu kelas pekerja mulai menembus batas-batas diskursus elit dan menjadi konsumsi publik luas. Buruh tak lagi diposisikan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek politik yang aktif dan diperhitungkan.
Lebih jauh, Fuad menyampaikan harapan besar terhadap masa depan Partai Buruh sebagai rumah ideologis kelas pekerja Indonesia.
“Semoga Partai Buruh benar-benar dapat mewujudkan kelas pekerja yang kuat, agar seluruh pekerja dengan sukarela menjadikan Partai Buruh sebagai ideologi politik pribadi mereka,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan kalimat yang terdengar seperti doa sekaligus peringatan bagi elite politik nasional. “Kalau ini terjadi, saatnya buruh yang memimpin negeri ini”.