Kongres V Partai Buruh: Deklarasi Keyakinan, Partai Berbasis Buruh dan Kelas Pekerja Belum Selesai

Kongres V Partai Buruh: Deklarasi Keyakinan, Partai Berbasis Buruh dan Kelas Pekerja Belum Selesai

Jakarta, KPonline-Kongres V Partai Buruh yang diselenggarakan di Boutique Hotel, Jakarta menjadi panggung penegasan sejarah, legitimasi politik, dan optimisme yang dilontarkan dengan nada tegas dengan penuh keyakinan. Dalam forum kongres tersebut, Sonny Pujisasono yang akrab disapa Sonny menyampaikan pidato pembukaan yang sarat narasi masa lalu, refleksi kegagalan, sekaligus harapan besar menuju Pemilu 2029.

Di hadapan Presiden Partai Buruh Said Iqbal, Sekretaris Jenderal, Ketua Majelis Nasional, serta perwakilan EXCO provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia—baik yang hadir langsung maupun daring—Sonny membuka pidatonya dengan nada penghormatan sekaligus penegasan. Ia menyebut hari pembukaan kongres sebagai hari kebahagiaan, bukan hanya karena kongres resmi dimulai, tetapi karena Partai Buruh dinilai masih bertahan di tengah kerasnya jalan politik elektoral.

“Saya telah melakukan pembukaan Kongres Partai Buruh,” ujar Sonny, seraya memperkenalkan dirinya sebagai Ketua Majelis Rakyat. Ia menegaskan bahwa Majelis Rakyat di tubuh Partai Buruh bukanlah organ biasa, melainkan organisasi inisiator pelanjut. Sebuah istilah yang ia tekankan berulang kali untuk menegaskan bahwa Partai Buruh hari ini bukan partai baru tanpa akar, melainkan kelanjutan dari sejarah panjang politik kelas pekerja.

Menurut Sonny, istilah inisiator pelanjut merujuk pada kesinambungan sejarah Partai Buruh yang secara resmi dideklarasikan pada 5 Oktober 2021. Namun, akar ideologis dan organisatorisnya, kata dia, sudah tumbuh jauh sebelumnya, bahkan sejak deklarasi pada 1 Mei 2021 yang kala itu masih menggunakan nama Partai Buruh Sosial Demokrat.

“Kalau bicara pelanjut, berarti Partai Buruh ini sebetulnya sudah ada sejak dulu,” ujarnya, menepis anggapan bahwa Partai Buruh hanyalah partai baru yang muncul tiba-tiba menjelang pemilu.

Sonny juga mengulas perubahan nama partai yang kerap dipelintir sebagai manuver pragmatis. Ia menegaskan bahwa perubahan dari Partai Buruh Sosial Demokrat menjadi Partai Buruh bukanlah sekadar soal kosmetik politik atau akibat partai telat naik kelas. Menurutnya, perubahan itu merupakan konsekuensi dari regulasi kepemiluan, di mana partai yang tidak lolos pada pemilu sebelumnya diwajibkan mengganti nama untuk dapat kembali ikut serta dalam kontestasi berikutnya.

“Bukan karena ideologinya berubah, tapi karena syarat politiknya yang memaksa,” katanya, seraya menyebut bahwa fenomena serupa juga terjadi pada partai-partai lain dalam sejarah politik nasional.

Sonny juga tidak menutup-nutupi realitas pahit yang dihadapi Partai Buruh. Ia mengibaratkan perjalanan menuju Pemilu 2029 sebagai jalanan yang becek. Namun, justru dari metafora itulah ia membangun optimisme. Becek, kata dia, bukan berarti buntu. Becek justru menandakan medan perjuangan yang nyata, bukan jalan mulus yang penuh ilusi.

Ia mengingatkan bahwa Partai Buruh pernah mencatatkan prestasi elektoral yang signifikan. Pada masa lalu, ketika masih menggunakan nama dan format sebelumnya, Partai Buruh mampu menempatkan ratusan kader di lembaga legislatif daerah. Angka yang ia sebut bukan kecil: ratusan anggota DPRD di tingkat provinsi serta kabupaten/kota pernah diisi oleh kader partai berbasis kelas pekerja tersebut.

“Artinya, kita masih punya peluang,” tegas Sonny. Apalagi, lanjutnya, jika dibandingkan dengan masa lalu ketika partai hanya didukung oleh satu pilar organisasi pekerja. Kini, Partai Buruh berdiri di atas dukungan 11 pilar organisasi pelanjut. Sebuah kekuatan sosial-politik yang menurutnya jauh lebih solid dan matang.

Pidato itu juga memuat harapan besar terhadap hasil Kongres V. Sonny menyebut kongres ini sebagai momentum konsolidasi, bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk berjaya. Targetnya jelas yaitu kehadiran nyata Partai Buruh di lembaga legislatif, baik DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, hingga tingkat nasional.

“Kita harapkan melalui Kongres Partai Buruh yang kelima ini, Partai Buruh akan mampu menghadirkan wakil-wakil terbaik di lembaga legislatif,” katanya, menegaskan kembali orientasi partai pada perjuangan representasi politik kelas pekerja.

Kongres V Partai Buruh pun menjadi lebih dari sekadar forum internal. Ia menjelma sebagai deklarasi keyakinan bahwa partai berbasis buruh dan kelas pekerja belum selesai.

Di tengah skeptisisme publik terhadap partai politik, pidato Sonny menjadi pengingat bahwa bagi Partai Buruh, politik bukan soal jalan mulus, melainkan soal bertahan di lumpur, berjalan di medan becek, dan tetap melangkah menuju 2029 dengan keyakinan bahwa sejarah sekali lagi bisa diulang, atau bahkan dilampaui.