Ketua Panitia Munas VII SPEE FSPMI Tegaskan Kebanggaan dan Konsistensi

Ketua Panitia Munas VII SPEE FSPMI Tegaskan Kebanggaan dan Konsistensi
Ismail, Ketua Panitia Munas VII SPEE FSPMI | Foto by Sonny (MP Batam)

Jakarta, KPonline-Bertajuk “Komitmen dan Konsisten Dalam Arah Perjuangan”. Pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) VII Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPEE FSPMI) yang diselenggarakan di ruang Pulau Bidadari, Mercure Hotel, Jakarta pada Senin, (9/2/2026) tidak hanya menjadi ajang konsolidasi dan arah perjuangan organisasi kedepan, tetapi juga ruang kejujuran. Ketua Panitia Munas VII SPEE FSPMI, Ismail, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta atas berbagai kekurangan teknis yang terjadi selama pelaksanaan agenda penting tersebut.

Dalam sambutannya, Ismail tidak berkelit. Ia mengakui masih adanya ketidaksempurnaan dalam kerja kepanitiaan, mulai dari kenyamanan peserta hingga persoalan atribut organisasi yang belum sepenuhnya terdistribusi. Namun di balik permohonan maaf itu, terselip pesan kuat tentang tanggung jawab, konsistensi, dan kebesaran SPEE sebagai bagian dari FSPMI.

“Maka dari itu, saya atau kami atas nama kepanitiaan dari SPEE, saya mohon maaf atas kesalahan panitiaan. Sekali lagi, itu di luar kuasa kami,” ujar Ismail. Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan cermin sikap SPEE yang berani mengakui kekurangan tanpa kehilangan martabat perjuangan.

Ismail menegaskan keyakinannya bahwa SPEE merupakan serikat pekerja anggota (SPA) FSPMI yang paling kompeten dan konsisten dalam menjaga kebijakan dan arah perjuangan. Ia bahkan secara pribadi menyatakan kebanggaannya bisa tumbuh, berjuang, dan dipercaya mewakili SPEE dalam forum sebesar Munas VII.

Lebih jauh, Ismail memaparkan realitas organisasi yang sering kali luput dari sorotan publik. Dengan basis anggota yang mencapai sekitar 700 hingga 800 ribu orang yang tersebar di seluruh Nusantara, SPEE menargetkan partisipasi luas dalam setiap agenda nasional. Namun fakta di lapangan menunjukkan hanya sekitar 312 peserta yang tercatat hadir secara langsung.

“Dan 312 orang yang hadir di ruangan ini, saya mengucapkan terima kasih. Kami pengurus sangat bersama kalian,” tegas Ismail. Pernyataan ini seolah menampar anggapan bahwa kekuatan organisasi hanya diukur dari jumlah kehadiran fisik. Bagi SPEE, kehadiran ideologis dan komitmen perjuangan jauh lebih menentukan.

Sorotan lain yang tak luput dari perhatian adalah persoalan distribusi jaket peserta. Ismail kembali menegaskan komitmen panitia bahwa seluruh peserta harus menerima haknya tanpa terkecuali. Ia memastikan data peserta yang belum menerima akan dicatat dan dipenuhi, bahkan bila harus dikirim langsung ke daerah masing-masing.

“Semua harus dapat. Kalau kita sepakati, kita paketin. Kalau harus diantar, kita kirim. Yang penting semua dapat,” ucapnya tegas, menandakan bahwa dalam organisasi buruh, keadilan tidak boleh berhenti di mimbar pidato.

Sambutan Ismail menjadi penegas bahwa Munas VII SPEE FSPMI bukan panggung seremonial tanpa kritik. Justru di sinilah watak organisasi buruh diuji. Berani mengakui kekurangan, bertanggung jawab atas dampaknya, dan tetap berdiri tegak menjaga kepercayaan anggota.