Ketika Bansos, Sembako Murahan, dan Uang Receh Lancar Diberikan, Tragedi Bencana pun Hilang dari Ingatan Rakyat

Ketika Bansos, Sembako Murahan, dan Uang Receh Lancar Diberikan, Tragedi Bencana pun Hilang dari Ingatan Rakyat

Medan,KPonline, – Di negeri ini, ingatan kolektif rakyat ternyata tidak kalah rapuh dari tanggul sungai yang jebol. Ingatan rakyat mudah tergerus, cepat hanyut, dan sangat bisa dibeli.”Cukup dengan sebungkus sembako murahan, selembar uang receh, atau bantuan sosial yang dibagikan sambil tersenyum di depan kamera, maka tragedi bencana sebesar apa pun, perlahan menguap dari kesadaran publik, dan yang lahir kemudian puja dan puji kepada para elit.

Banjir bandang, longsor, rumah hanyut, nyawa melayang. Semua itu sempat menjadi berita utama, menjadi bahan pidato, menjadi ladang empati dadakan. Namun begitu bansos mengalir lancar, suara sirene berganti tepuk tangan. Derita rakyat berubah menjadi latar belakang foto, dan duka kolektif direduksi menjadi angka statistik yang segera dilupakan.

Ironisnya, bantuan yang sejatinya adalah hak warga negara justru diperlakukan sebagai hadiah kemurahan hati penguasa. Rakyat diajari untuk berterima kasih, bukan untuk bertanya. Bertanya tentang penyebab bencana dianggap tidak sopan. Mengkritik kebijakan dianggap tidak tahu diri. Seolah-olah satu karung beras cukup untuk menutup kegagalan tata kelola lingkungan, pembiaran perusakan alam, dan abainya pengawasan negara.

Sembako menjadi alat penenang massal. Uang receh menjadi penghapus ingatan. Bansos menjadi obat bius agar rakyat lupa bahwa bencana bukan semata takdir, melainkan sering kali hasil dari keserakahan yang dilegalkan dan kelalaian yang dibiarkan.

Lebih tragis lagi, sebagian rakyat pun ikut berperan dalam sandiwara ini. Selama perut terisi hari ini, soal besok bisa ditunda. Selama ada amplop dibagi, soal siapa yang harus bertanggung jawab tak perlu dipersoalkan. Tragedi pun berubah menjadi rutinitas musiman, bukan alarm keras untuk perubahan.

Padahal, bencana tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali, dengan korban yang berbeda, di tempat yang sama, dengan pola kesalahan yang diulang. Dan saat itu terjadi, siklus lama pun diputar ulang, tangis, kunjungan pejabat, foto bantuan, lalu lupa.

Di negeri ini, rupanya yang benar-benar langgeng bukanlah solusi, melainkan lupa. Dan selama ingatan rakyat bisa dibeli semurah harga sembako, jangan heran jika tragedi akan terus berulang, sementara tanggung jawab tetap tak pernah ditemukan.

Ternyata harga diri rakyat dinegeri ini hanya sebatas, bansos, sembako murahan dan uang receh, rakyat tersenyum kemudian lupa ingatan dan memilih kembali para bajingan penghianat bangsa untuk kembali berkuasa. (Anto Bangun)