Mojokerto, KPonline – Penyelenggaraan Musyawarah Unit Kerja (MUSNIK) IX yang berlangsung pada Sabtu hingga Minggu, 17-18 Januari 2026, di Hotel Vanda Gardenia, Trawas Mojokerto menjadi saksi pentingnya legitimasi kepemimpinan dalam sebuah forum organisasi. Ditengah suasana sidang yang penuh dinamika, muncul satu nama yang dipercaya oleh forum untuk memegang palu sidang: Dodik Dwi Wahyono.
Momen terpilihnya Dodik bukanlah sebuah kebetulan, melainkan wujud dari kepercayaan murni para peserta.
Titik balik efektivitas MUSNIK IX terjadi saat Ketua Sidang Sementara, Meimun Toha melontarkan pertanyaan krusial kepada peserta: “Apakah sidang selanjutnya tetap dipimpin oleh pimpinan sidang sementara atau diganti?” Secara spontan dan kolektif, forum menjatuhkan pilihan kepada Dodik Dwi Wahyono. Keputusan ini menjadi modal sosial yang kuat bagi Dodik; ia memimpin bukan karena penunjukan sepihak, melainkan karena mandat langsung dari anggota. Hal ini membuatnya memiliki wibawa yang tinggi sejak detik pertama ia memegang palu sidang.
Selama dua hari masa persidangan di Vanda Gardenia, Dodik berhasil membuktikan mengapa ia menjadi pilihan utama peserta melalui beberapa poin keunggulan:
1. Pengendali Dinamika yang Tenang
Di tengah suhu diskusi yang sempat menghangat, Dodik tampil sebagai penengah yang mampu mendinginkan suasana tanpa membungkam aspirasi. Ia memahami bahwa di balik perdebatan, ada keinginan untuk memajukan organisasi.
2. Ketegasan Prosedural
Dodik menunjukkan pemahaman mendalam terhadap mekanisme persidangan. Ia memastikan setiap ketukan palu memiliki dasar konstitusional yang kuat, sehingga hasil MUSNIK IX memiliki legitimasi hukum yang tidak dapat diganggu gugat.
3. Efisiensi Agenda
Mengingat padatnya agenda dari Sabtu hingga Minggu, kecakapan Dodik dalam membagi waktu (time management) memastikan seluruh draf program kerja dan rekomendasi organisasi terselesaikan tepat pada waktunya tanpa ada poin yang terlewatkan.
“Kepemimpinan sidang bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, melainkan siapa yang paling mampu merangkum seluruh suara menjadi satu kesepakatan. Dodik Dwi Wahyono menunjukkan bahwa kepercayaan forum dibalas dengan kinerja yang profesional dan bermartabat”.
Dengan berakhirnya musyawarah di Vanda Gardenia, suksesnya kepemimpinan Dodik Dwi Wahyono meninggalkan standar bagi organisasi dalam memilih pemimpin sidang. Ia membuktikan bahwa pimpinan sidang yang tepat adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan aturan dan kebersamaan anggota.
Hasil keputusan MUSNIK IX kini tegak berdiri di atas fondasi musyawarah yang sehat, jujur, dan dipimpin oleh tangan yang tepat.
(Khoirul Anam)



