Jakarta, KPonline – Musyawarah Nasional (Munas) VI Serikat Pekerja Perkapalan, Jasa, dan Maritim Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPPJM FSPMI) digelar di Ruang Nirwana 1, Hotel Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, pada Senin (9/2/2026).
Dalam sambutan pembukaan Munas VI SPPJM FSPMI, sebelum acara resmi dibuka oleh Ketua Umum, Kahar S. Cahyono menegaskan bahwa SPPJM merupakan bagian terpenting dalam tubuh FSPMI. Penegasan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan berangkat dari sejarah panjang kelahiran dan perjuangan organisasi.
“Kenapa saya katakan SPPJM bagian terpenting? Karena SPPJM lahir bersamaan dengan lahirnya FSPMI,” tegas Kahar di hadapan peserta Munas.
Ia menjelaskan bahwa sebelum bernama FSPMI, organisasi ini bernama SPMI. Saat perubahan nama menjadi FSPMI, SPPJM yang kala itu masih bernama Serikat Pekerja Golongan Dok dan Galangan Kapal (SPGDG) merupakan Serikat Pekerja Anggota (SPA) pertama yang tergabung di dalam FSPMI.
“Kita tahu, SPA FSPMI itu memiliki lima Serikat Pekerja Anggota di dalamnya, dan salah satunya adalah SPGDG yang kini menjadi SPPJM. Artinya, SPPJM adalah pelopor, pendiri, dan bagian pertama dari FSPMI,” lanjutnya.
Kahar memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi SPPJM FSPMI yang dinilainya selalu hadir dan berkontribusi sejak awal berdirinya FSPMI hingga saat ini. Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan meriah dan serempak dari seluruh peserta Munas.
“Saya beri nilai A plus untuk SPPJM FSPMI. Dari dulu sampai sekarang selalu ada, dan saya kira ini akan terus kita lanjutkan ke depan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tugas besar SPPJM bukan hanya menjaga eksistensi organisasi, tetapi memastikan SPPJM menjadi organisasi yang besar, kuat, dan mampu mengarahkan perjuangan demi terwujudnya kesejahteraan anggota.
“Tugas kita bersama adalah memastikan SPPJM tetap ada selamanya. Bukan sekadar ada, tapi menjadi organisasi yang besar, kuat, dan mampu mewujudkan kesejahteraan anggota,” tegas Kahar.
Lebih jauh, Kahar mengulas sejarah panjang sektor perkapalan dan jasa maritim dalam perjalanan buruh di Indonesia. Menurutnya, buruh perkapalan dan pelabuhan merupakan buruh generasi pertama di Indonesia.
“Ketika masa penjajahan, VOC datang dengan kapal-kapalnya. Yang dibangun pertama adalah pelabuhan, lalu kereta api, kemudian perkebunan. Generasi pertama serikat pekerja di Indonesia itu lahir di pelabuhan dan kereta api,” paparnya.
Ia menambahkan, buruh pelabuhan dan perkapalan dikenal sebagai buruh yang kuat, pelopor, dan memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan buruh, bahkan turut menjadi bagian dari gerakan yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.
“Gerakan buruh perkapalan, jasa, dan maritim adalah bagian dari sejarah besar perjuangan pekerja Indonesia. Dan itu adalah bagian dari gerakan SPPJM,” ujarnya penuh semangat.
Menutup sambutannya, Kahar menyampaikan bahwa berada di dalam FSPMI merupakan sebuah kehormatan bagi SPPJM, sekaligus tantangan besar untuk terus menjaga amanat para pendahulu.
“Berada di SPPJM adalah kehormatan, sekaligus tantangan. Ini organisasi yang harus kita jaga, sebagaimana amanat para sesepuh kita, untuk terus berlayar sampai cita-cita pekerja Indonesia benar-benar terwujud,” pungkasnya.
Munas VI SPPJM FSPMI menjadi momentum strategis untuk meneguhkan kembali peran historis SPPJM sebagai pelopor, pendiri, dan garda depan perjuangan buruh di sektor perkapalan, jasa, dan maritim dalam tubuh FSPMI.



