Kader Perempuan FSPMI Pati Bawa Semangat Organising untuk Perkuat Keterlibatan Pekerja Perempuan

Kader Perempuan FSPMI Pati Bawa Semangat Organising untuk Perkuat Keterlibatan Pekerja Perempuan

Semarang, KPonline — Penguatan peran pekerja perempuan menjadi salah satu semangat yang dibawa dalam Organising Training DPP FSPMI yang berlangsung pada 26–27 September 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Dua kader perempuan dari PUK SPAI FSPMI PT Hwaseung Pati, Riska Agustin Rahayu dan Fela Noviana Arifa, turut mengikuti pelatihan tersebut. Keduanya mengikuti rangkaian materi, diskusi, serta praktik pengorganisasian yang diberikan selama kegiatan.

Bagi Riska, pelatihan tersebut memberikan perspektif baru dalam melihat tantangan pengorganisasian di lingkungan perusahaan. Dengan mayoritas pekerja di perusahaannya merupakan perempuan, ia melihat terdapat potensi besar untuk mengembangkan keanggotaan sekaligus memperluas peran pekerja perempuan dalam organisasi.

Namun, menurutnya, melakukan pengorganisasian di kalangan pekerja perempuan bukan pekerjaan yang sederhana.

“Di perusahaan kami yang kebanyakan perempuan, sebetulnya sangat sulit untuk melakukan organising dan menambah keanggotaan. Namun ternyata banyak metode dan cara yang kami pelajari dalam Organising Training ini. Ini sangat menarik dan kami siap untuk berkembang lebih baik,” ujar Riska.

Pengalaman selama pelatihan membuat Riska melihat bahwa tantangan pengorganisasian dapat dihadapi dengan pendekatan dan strategi yang beragam. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk diterapkan kembali di tingkat PUK, terutama dalam membangun komunikasi dan kedekatan dengan pekerja perempuan.

Riska juga melihat bahwa keterlibatan pekerja perempuan dalam perjuangan buruh di Pati masih perlu diperkuat. Menurutnya, berbagai persoalan yang berkaitan dengan pekerja perempuan masih membutuhkan perhatian dan perjuangan bersama.

“Keterlibatan pekerja perempuan dalam perjuangan buruh di Pati masih sangat minim, sedangkan isu pekerja perempuan masih banyak yang harus kita perjuangkan,” ungkapnya.

Karena itu, memperkuat keanggotaan pekerja perempuan menjadi salah satu langkah untuk membangun basis organisasi yang lebih kuat. Pekerja perempuan tidak hanya menjadi bagian dari jumlah anggota, tetapi juga perlu mendapatkan ruang untuk terlibat aktif dan mengambil peran di dalam organisasi.

“Kami berharap dapat menerapkan apa yang kami pelajari dari pelatihan ini untuk kepentingan perjuangan buruh, khususnya di daerah Pati,” tambah Riska.

Keikutsertaan Riska dan Fela dalam Organising Training menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas kader perempuan di tingkat PUK. Pengetahuan mengenai pendekatan pengorganisasian diharapkan dapat diterapkan untuk membangun komunikasi yang lebih efektif dengan pekerja, memahami persoalan yang mereka hadapi, serta menyusun strategi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Bagi PUK SPAI FSPMI PT Hwaseung Pati, besarnya jumlah pekerja perempuan menjadi salah satu ruang untuk terus mengembangkan organisasi. Namun, potensi tersebut membutuhkan kader yang mampu membangun komunikasi, menciptakan kepercayaan, dan mengajak pekerja untuk terlibat bersama dalam organisasi.

Pelatihan tersebut juga menjadi ruang bagi kader untuk memahami bahwa organising bukan sekadar aktivitas merekrut anggota. Lebih dari itu, pengorganisasian merupakan proses membangun kesadaran, partisipasi, kepemimpinan, dan kekuatan kolektif pekerja.

Dengan membawa pengetahuan baru dari Semarang, Riska dan Fela diharapkan dapat menjadi bagian dari penggerak pengorganisasian di Pati. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya untuk membuka ruang yang lebih luas bagi pekerja perempuan untuk mengenal, bergabung, dan mengambil peran dalam organisasi serikat pekerja. (Panji)