Jakarta, KPonline-Dari ruang Kongres VII Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (8/2/2026), pesan kuat solidaritas lintas negara datang dari Japan Council of Metalworkers Unions (JCM) yang menegaskan bahwa perjuangan buruh Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan buruh dunia.
Dalam sambutannya, Akihiro Kaneko, Presiden of JCM menyebut Kongres VII FSPMI sebagai hari yang sangat penting, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi masa depan gerakan buruh internasional.
“Ini adalah hari yang sangat penting untuk perkembangan suatu bangsa. Hari ini penting bagi masa depan, karena hari ini para pekerja menentukan arah perjuangan mereka,” ujar Akihiro.
Di tengah agenda penting di Jepang, termasuk dinamika politik nasional dan tantangan internal gerakan buruh Jepang, JCM secara tegas menyatakan memilih untuk hadir di Indonesia.
“Bagi bangsa Jepang, hari ini juga hari yang penting. Namun hari ini saya memilih untuk hadir bersama saudara-saudara pekerja di Indonesia,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi pertanda bahwa solidaritas buruh tidak mengenal jarak geografis, bahasa, maupun kepentingan nasional sempit. Apa yang diperjuangkan buruh Indonesia hari ini, diyakini akan berdampak langsung pada buruh Jepang dan negara lain, khususnya di sektor industri manufaktur dan otomotif.
Akihiro kembali menegaskan bahwa hubungan antara JCM dan FSPMI bukan hubungan seremonial, melainkan kerja sama panjang yang telah terjalin bertahun-tahun.
“Jika kita melihat kembali, hubungan antara FSPMI dan JCM telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan sebelum hubungan ini terjalin secara langsung, kami sudah bekerja sama melalui berbagai kolaborasi lintas sektor,” ungkapnya.
Kerja sama itu mencakup sektor otomotif, logam, dan industri manufaktur. Sektor yang menjadi tulang punggung investasi Jepang di Indonesia.Akihiro menyebut, sebagai bagian dari serikat pekerja yang berasal dari industri kendaraan dan manufaktur, Ia memahami betul tantangan yang dihadapi buruh Indonesia di perusahaan-perusahaan multinasional Jepang.
Akihiro secara terbuka menegaskan komitmen mereka untuk ikut mengawasi praktik hubungan industrial perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia.
“Di Indonesia banyak perusahaan Jepang beroperasi. JCM selalu memperhatikan agar perusahaan-perusahaan Jepang tersebut tetap melindungi hak-hak pekerja Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat posisi FSPMI dalam memperjuangkan hak normatif, kebebasan berserikat, serta perundingan kolektif di perusahaan-perusahaan Jepang. Isu yang selama ini menjadi perhatian serius serikat pekerja di Indonesia.
Ia juga memberikan penghormatan tinggi terhadap sejarah perjuangan serikat pekerja Indonesia yang dinilai konsisten menjaga demokrasi dan hak asasi pekerja.
“Serikat pekerja di Indonesia memiliki sejarah panjang dalam melindungi demokrasi dan hak-hak pekerja, melawan politik diktator, menghadapi krisis ekonomi, dan melewati berbagai perubahan sosial,” ujarnya.
Menurutnya, justru karena perjuangan panjang itulah serikat pekerja Indonesia, termasuk FSPMI, tumbuh menjadi salah satu kekuatan buruh terbesar di Asia.
“Dengan perjuangan itu, serikat pekerja Indonesia menjadi yang terbesar di Asia dan memiliki tradisi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya.
Ia pun mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan kesejahteraan pekerja.
“Kami tidak percaya bahwa perkembangan perusahaan bisa dipisahkan dari kehidupan pekerja. Kesejahteraan pekerja adalah kunci pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Pandangan ini sejalan dengan prinsip-prinsip Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) yang menekankan kerja layak (decent work), kebebasan berserikat, dan dialog sosial sebagai fondasi pembangunan ekonomi.
Menutup sambutannya, Presiden of JCM tersebut pun menegaskan bahwa Kongres VII FSPMI memancarkan energi perjuangan yang luar biasa dan menjadi inspirasi bagi gerakan buruh di kawasan Asia Pasifik.
“Saya merasakan energi yang sangat kuat di kongres ini. Perjalanan perjuangan FSPMI akan menjadi kunci dalam mengingatkan bahwa kesejahteraan pekerja adalah masa depan Indonesia,” ujarnya.