Jangan Mau Di-nina-bobokan, Membedah Agama yang Dijadikan Alat Obat Bius oleh Kaum Kapitalis

Jangan Mau Di-nina-bobokan, Membedah Agama yang Dijadikan Alat Obat Bius oleh Kaum Kapitalis

Oleh: Econg

Ditengah kepulan asap pabrik dan deru mesin di kawasan industri Bukit Indah City (BIC) hingga Jatiluhur sebuah pertanyaan besar muncul, apakah selama ini keyakinan kita telah “dibajak” oleh kepentingan para pemilik modal?

​Menyambung diskusi tentang sosiologi hukum dan kendali kapitalis terhadap agama, kita perlu melakukan otokritik yang jujur. Sebagai buruh, kita sering mendengar khutbah atau nasihat agar “menerima nasib” dan “banyak bersyukur” saat upah kita dipres atau lemburan tak dibayar. Namun, benarkah itu murni ajaran Tuhan, atau jangan-jangan itu adalah strategi pengusaha agar kita tetap diam?

​Tokoh pemikir Karl Marx pernah bilang kalau “Agama adalah candu bagi rakyat.” Kalimat ini sering disalahartikan. Maksudnya begini: Di jaman dulu, candu dipakai sebagai obat bius untuk orang yang sakit parah supaya tidak merasakan nyeri.

​Bagi buruh yang sehari-hari lelah bekerja, terhimpit cicilan, dan pusing dengan harga sembako yang naik, agama sering jadi tempat pelarian untuk mencari ketenangan. Ini bagus. Tapi, Marx mengingatkan kita, hati-hati kalau ketenangan itu malah bikin kita mati rasa terhadap ketidakadilan.

​Kalau kita dizalimi pengusaha, lalu kita hanya bilang “Ya sudah, ini ujian dari Tuhan,” tanpa mau berjuang lewat serikat atau jalur hukum, maka di situlah agama sedang dijadikan “candu” atau obat bius oleh sistem kapitalis agar kita tidak melirik akar masalahnya.

​Kita harus sadar bahwa Tuhan memberikan kita akal untuk melawan kezaliman. Agama seharusnya menjadi api perlawanan, bukan air pembasuh kaki para kapitalis. ​Jika di satu sisi kita rajin beribadah, tapi di sisi lain kita membiarkan kawan kita di-PHK sepihak tanpa pesangon, atau kita diam saja melihat aturan hukum (seperti Omnibus Law) yang merugikan buruh, berarti kita sedang “mabuk candu” tersebut.

​Perubahan hanya bisa terjadi kalau buruh punya kesadaran. Jangan biarkan iman kita dijadikan alat untuk membenarkan kemiskinan kita. ​Kita harus mengembalikan agama kepada fungsinya yang asli, membela yang lemah (Mustad’afin).

Mari kita beribadah dengan khusyuk, tapi di pabrik kita tetap tegak melawan setiap ketidakadilan. Jangan mau dinina-bobokan oleh janji surga dari orang-orang yang sedang menciptakan neraka bagi kita di dunia.