Jalan Panjang Said Iqbal Dalam Gerakan Buruh Indonesia

Jalan Panjang Said Iqbal Dalam Gerakan Buruh Indonesia
Said Iqbal Saat Konferensi Pers dalam Aksi Nasional. Kamis (8/1/26) Foto : Hsn

Jakarta, KPonline-Memasuki penghujung tahun 2025 dan awal 2026, nama Said Iqbal kembali mencuat ke ruang publik. Kritik kerasnya terhadap kebijakan pengupahan Dedi Mulyadi bukan hanya memantik perdebatan, tetapi juga membuka kembali jejak panjang seorang tokoh buruh yang selama puluhan tahun konsisten berada di garis depan perlawanan kaum pekerja. Bagi pendukungnya, Said Iqbal adalah simbol keberanian. Bagi lawan-lawan politiknya, ia kerap dianggap terlalu frontal dan sulit dikompromikan.

Namun satu hal sulit dibantah bahwa Said Iqbal bukan figur dadakan.

Dari Anak Aceh di Jakarta hingga Pabrik di Bekasi

Ir. H. Said Iqbal, S.T., M.E., lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968 dari keluarga berdarah Aceh. Ayahnya berasal dari Pidie, sementara ibunya dari Meulaboh. Latar keluarga perantau inilah yang kelak membentuk wataknya yang keras, lugas, dan terbiasa hidup dalam tekanan.

Selepas lulus dari SMA Negeri 51 Jakarta, Said Iqbal menempuh pendidikan Teknik Mesin di Politeknik Universitas Indonesia, melanjutkan sarjana di Universitas Jayabaya, dan kemudian meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Indonesia. Bekal akademik tersebut membawanya masuk ke dunia industri.

Pada 1992, ia bekerja di sebuah pabrik elektronik di Kabupaten Bekasi. Di sanalah Said Iqbal berhadapan langsung dengan realitas buruh: upah rendah, jam kerja panjang, hingga relasi industrial yang timpang. Pengalaman tersebut menjadi titik balik dari seorang pekerja teknis menjadi aktivis buruh yang vokal.

Arsitek Gerakan Buruh Nasional

Reformasi 1998 membuka ruang baru bagi gerakan serikat pekerja. Said Iqbal ikut mendirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan dipercaya menjabat Sekretaris Jenderal di bawah kepemimpinan Thamrin Mosii. Namanya mulai dikenal luas sebagai negosiator keras dalam berbagai perundingan ketenagakerjaan.

Puncak pengaruhnya terjadi pada 2012, ketika ia terpilih sebagai Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Di bawah kepemimpinannya, KSPI menjelma menjadi salah satu kekuatan buruh paling agresif di Indonesia. Aksi mogok nasional, penolakan sistem outsourcing, hingga gelombang demonstrasi besar menentang Undang-Undang Cipta Kerja menjadi ciri khas era Said Iqbal.

Konsistensinya membuat ia kembali terpilih untuk masa jabatan ketiga pada 2022, sebuah pencapaian yang menegaskan kuatnya pengaruh dan basis dukungannya di kalangan buruh.

Dari Jalanan ke Panggung Internasional dan Politik

Peran Said Iqbal tak berhenti di tingkat nasional. Ia dipercaya menjadi anggota deputi badan pengurus International Labour Organization (ILO) periode 2021–2024, membawa isu buruh Indonesia ke forum ketenagakerjaan dunia.

Langkah politiknya semakin nyata ketika pada 5 Oktober 2021, ia ditetapkan sebagai Presiden Partai Buruh. Ia menegaskan sikap tegas: tidak akan berkoalisi dengan partai-partai pendukung Omnibus Law. Bagi Said Iqbal, kompromi terhadap kebijakan yang dianggap merugikan buruh adalah pengkhianatan terhadap sejarah perjuangan.

Kritik Tajam terhadap Dedi Mulyadi

Dengan rekam jejak tersebut, kritik Said Iqbal terhadap kebijakan Dedi Mulyadi bukanlah sekadar opini emosional. Ia berbicara sebagai aktivis yang telah lebih dari tiga dekade menghadapi konflik industrial, negosiasi upah, hingga represi kebijakan negara.

Menurutnya, kebijakan pemerintah daerah maupun pusat tidak boleh berhenti pada narasi pembangunan dan investasi. “Jika pembangunan mengorbankan kesejahteraan buruh, maka itu bukan kemajuan, melainkan kemunduran,” menjadi garis besar sikap yang kerap ia suarakan.

Kehidupan Pribadi di Balik Figur Keras

Dibalik citra keras dan konfrontatif di ruang publik, Said Iqbal juga menyimpan kisah personal. Ia pernah menjalani kehidupan keluarga bersama Ika Liviana Gumay, yang wafat pada 17 Juli 2019. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai seorang anak.

Tokoh yang Tak Pernah Netral

Lebih dari 30 tahun berkecimpung di dunia buruh, Said Iqbal tetap menjadi figur sentral yang dicintai oleh jutaan pekerja, dikritik oleh pengusaha dan penguasa, serta selalu hadir sebagai durian runtuh dalam setiap polemik kebijakan ketenagakerjaan.

Satu hal yang pasti. Selama isu buruh masih menjadi persoalan dan merugikan rakyat pekerja, nama Said Iqbal hampir tak pernah absen dari pusaran konflik. Dan bagi para pengambil kebijakan, ia tetap menjadi suara keras yang sulit diabaikan.