Medan,KPonline, – Diatas panggung kekuasaan, janji-janji selalu dipidatokan dengan suara yang sangat lantang, tetapi kenyataan dibawah panggung rakyat harus belajar menelan sunyi. Setiap kebijakan yang lahir dari meja kekuasaan selalu dengan bahasa kemajuan, namun sering kali tumbuh dari rahim pengorbanan mereka yang tak pernah diajak bicara. Di sanalah ironi berdiri, kemegahan dirayakan, sementara air mata rakyat menjadi harga yang dianggap wajar.
Rakyat selalu dipuji sebagai pilar negara, tetapi rapuh saat haknya dipangkas. Rakyat diminta untuk sabar ketika keadilan ditunda, diminta ikhlas ketika kesejahteraan hanya menjadi grafik di layar rapat. Negara sibuk menghitung angka, lupa membaca luka.
Di meja-meja kekuasaan, penderitaan disederhanakan menjadi statistik; di rumah-rumah sempit, statistik itu berubah menjadi tangisan yang nyata.
Ironi semakin telanjang saat hukum tampil kejam kepada yang lemah, bermata tajam ke bawah, tumpul ke atas. Yang lemah dipaksa patuh, yang kuat diberi ruang tawar. Kebenaran berjalan tertatih, dibungkam oleh kepentingan yang bersekutu dengan kuasa. Di saat rakyat bersuara, gema suaranya sering dipatahkan oleh dalih stabilitas.
Tetapi sejarah selalu berpihak pada ingatan. Air mata rakyat bukan sekadar kesedihan, ia adalah sebuah kesaksian.Dari kesabaran yang panjang, lahir keberanian. Dari luka yang berulang, tumbuh kesadaran. Ironi boleh berkuasa hari ini, tetapi ia tak pernah abadi.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukan yang pandai menutup penderitaan, melainkan yang berani mengakuinya dan bertindak.
Ketika air mata rakyat dihormati sebagai kebenaran, saat itulah ironi runtuh, dan keadilan pasti menemukan jalannya.
Disaat kesabaran rakyat sudah habis masanya maka rakyat akan memilih jalannya sendiri “revolusi atau referendum” waktu akan menjawab semuannya. (Anti Bangun)