Impor 105 Ribu Unit Pickup, Forum SP Astra Otoparts Nyatakan Penolakannya

Impor 105 Ribu Unit Pickup, Forum SP Astra Otoparts Nyatakan Penolakannya

Jakarta, KPonline – Berita impor 105.000 unit mobil pickup dari India oleh PT. Agrinas Pangan Nusantara kembali memantik kontroversi diberbagai kalangan. Rencana pengadaan kendaraan untuk kebutuhan operasional Koperasi Merah Putih itu bukan sekadar isu dagang biasa, melainkan telah berkembang menjadi perdebatan serius tentang keberpihakan terhadap industri nasional.

Salah satunya datang dari Sekjen Forum Serikat Pekerja Astra Otoparts, Ekha Rosyid Kurniawan. Sebagai bagian dari pelaku industri otomotif dalam negeri, Ekha buka suara menyampaikan sikap tegas.

Sebagai pengurus Forum Serikat Pekerja Astra Otoparts (Form SP AOP) yang menjadi bagian dari pekerja produsen kendaraan nasional menilai kebijakan impor tersebut sulit dipahami, terutama ketika kapasitas produksi domestik diklaim lebih dari cukup.

“Dalam situasi industri yang melemah, belanja negara harus menjadi stimulus bagi manufaktur nasional, bukan justru menguntungkan industri luar negeri.” ungkap Ekha dalam siaran persnya hari ini (25/2/26).

Dalam pandangannya, produsen otomotif Indonesia memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pickup dalam jumlah besar tanpa harus bergantung pada produk impor. industri otomotif Indonesia bukan pemain kecil dalam manufaktur kendaraan niaga ringan. Kapasitas produksi besar telah lama menjadi keunggulan industri otomotif nasional.

Dimata pengurus SP AOP, keputusan impor dalam skala masif justru memunculkan tanda tanya: mengapa memilih produk luar negeri ketika lini produksi domestik tersedia dan siap bekerja?

Ada kekhawatiran lebih besar yang mengemuka dikalangan pekerja otomotif dalam negeri, yakni potensi melemahnya utilitas pabrik otomotif dalam negeri. Industri kendaraan sangat bergantung pada stabilitas permintaan untuk menjaga efisiensi produksi dan keberlanjutan tenaga kerja.

Masuknya puluhan ribu unit kendaraan impor dikhawatirkan dapat menggerus serapan pasar bagi produk lokal. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menekan kinerja manufaktur nasional, termasuk rantai pasok komponen, tenaga kerja, hingga investasi industri yang secara langsung akan berdampak pada para pekerja yang ada didalamnya.

Keberlangsungan industri otomotif bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut ekosistem ekonomi nasional dan nasib pekerja sektor otomotif sekarang ini.

Kebijakan strategis negara seharusnya menjadi instrumen penguatan industri domestik, bukan sebaliknya. Impor dalam jumlah besar, apalagi pada segmen yang dapat diproduksi lokal, dinilai berpotensi menciptakan preseden yang kurang sehat bagi iklim industri.

Seperti diketahui bersama, industri otomotif dalam negeri telah berinvestasi besar, menyerap tenaga kerja, serta membangun kapasitas produksi selama bertahun-tahun.

Forum SP AOP sebagai bagian pelaku industri telah menyampaikan pesan keras bahwa produksi dalam negeri seharusnya menjadi prioritas utama bukan pilihan kedua atau malah diabaikan.