Hujan Deras Berhari-hari, Puluhan Ton Ikan KJA Waduk Jatiluhur Mati Mendadak

Hujan Deras Berhari-hari, Puluhan Ton Ikan KJA Waduk Jatiluhur Mati Mendadak

Purwakarta, KPonline–Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi secara terus-menerus dalam beberapa hari terakhir menyebabkan kematian massal ikan di Kolam Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Ribuan ikan milik petani KJA dilaporkan mati mendadak dan mengapung di permukaan kolam.

Ikan yang mati mayoritas masih berusia tanam sekitar 1 hingga 2 bulan, sehingga belum layak panen. Kondisi ini membuat para petani mengalami kerugian besar karena siklus budidaya terhenti sebelum masa panen tiba.

Bagas, salah satu petani KJA di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, mengatakan kematian ikan di wilayahnya baru terjadi sejak semalam. Namun, di beberapa blok KJA lainnya, kejadian serupa sudah berlangsung sejak dua hari sebelumnya.

“Di sini kejadiannya baru semalam. Kalau di blok lain sudah dari dua hari lalu. Di kolam saya saja yang mati hampir satu ton,” ujar Bagas saat ditemui di KJA SGH, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, ikan jenis mas yang dibudidayakan mati akibat perubahan drastis kondisi air waduk yang dipicu cuaca buruk dan minimnya sinar matahari. Perubahan suhu air, penurunan kualitas air, serta naiknya air dasar ke permukaan menyebabkan kadar oksigen berkurang drastis.

“Air dingin dari bawah naik ke atas. Itu airnya sudah jelek, oksigennya kurang. Ikan enggak kuat, akhirnya mati,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sekitar 32 kolam jaring apung terdampak langsung oleh peristiwa ini. Total ikan yang mati diperkirakan mencapai puluhan ton. Sebagian besar ikan masih berusia satu bulan hingga satu setengah bulan, jauh dari usia panen normal yang biasanya mencapai dua setengah hingga tiga bulan.

“Ini ikan masih umur satu bulan sampai satu bulan setengah. Normalnya panen itu dua setengah sampai tiga bulan. Jadi belum bisa dipanen,” katanya.

Akibat kematian massal tersebut, Bagas memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp100 juta. Ia menyebut, kerugian serupa juga dialami oleh petani KJA lainnya di berbagai blok Waduk Jatiluhur, meskipun dengan jumlah yang berbeda-beda.

“Di Jatiluhur hampir semua kena, cuma waktunya beda-beda. Dua hari lalu di blok barat dulu, sekarang ke sini,” ucapnya.

Bagas menambahkan, hingga kini belum ada langkah antisipasi yang efektif untuk mencegah kematian ikan saat cuaca buruk berkepanjangan. Upaya memindahkan ikan ke kolam lain pun dinilai tidak membantu karena kondisi air di seluruh waduk relatif sama.

“Dipindahin juga tetap mati, karena airnya sama. Air bau itu turun ke bawah, ngendap,” pungkasnya.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat kerentanan budidaya ikan KJA terhadap perubahan cuaca ekstrem, sekaligus menegaskan perlunya sistem peringatan dini dan mitigasi yang lebih baik bagi para petani di Waduk Jatiluhur.