Hari Keempat Aksi Buruh Pakerin: FSPMI Jatim Tegaskan Perjuangan Sudah 80 Persen

Hari Keempat Aksi Buruh Pakerin: FSPMI Jatim Tegaskan Perjuangan Sudah 80 Persen

Jakarta, KPonline-Memasuki hari keempat aksi bertahan buruh Pabrik Kertas Indonesia (PT. Pakerin) di depan Kantor Kementerian Hukum dan HAM, Kamis, (29/1/2026) api perlawanan belum juga padam. Justru sebaliknya, Pujianto, perwakilan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia) Jawa Timur menegaskan bahwa perjuangan buruh sudah berada di ambang kemenangan, meski masih dihadang permainan birokrasi dan kepentingan elite.

Dalam pernyataannya, Pujianto mengungkapkan bahwa satu-satunya hambatan yang tersisa hanyalah persoalan teknis yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat, jika tidak ada penguluran waktu dari pihak perusahaan.

“Sebetulnya tinggal satu syarat yang belum dilakukan perusahaan, karena kuasa hukumnya masih di luar pulau. Surat permohonan revisi seharusnya hari ini sudah keluar. Tapi karena itu, baru bisa besok,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa secara substansi, persoalan yang disengketakan sudah hampir rampung. Bahkan, progres penyelesaian sudah mencapai 80 persen.

“Kalau bicara persentase, ini sudah 80 persen selesai. Tinggal mekanisme saja. Setelah surat revisi masuk besok, minggu depannya seharusnya surat revisi bisa keluar,” tegasnya.

Namun, dibalik optimisme tersebut, Pujianto mencium aroma permainan kekuasaan yang berpotensi kembali mengorbankan pekerja. Ia menyebut adanya “cover” dari lembaga tertentu yang justru bisa menjadi batu sandungan baru, meskipun secara hukum persoalan sudah hampir selesai.

“Kita berjuang bukan main-main. Bukan sekadar merobohkan administrasi AHU, tapi membuka kembali pintu hidup PT Pakerin. Harapan kita jelas, yaitu perusahaan ini beroperasi kembali, buruh bekerja kembali,” katanya.

Menurutnya, PT Pakerin bukan sekadar satu perusahaan. Ada sekitar 17 perusahaan penyangga yang ikut terdampak. Jika Pakerin terus dipaksa mati, maka efek domino akan mengguncang banyak sektor dan ribuan keluarga buruh.

“Kalau AHU ini direvisi sesuai harapan, PT Pakerin bisa kembali mengakses perbankan. Bisa pinjam di bank lain. Bahkan ada bank yang siap membuka peluang. Yang penting tidak ada lagi blokir. Itu kuncinya,” ujarnya.

Namun Ia mengatakan, bagi buruh tidak ada istilah menyerah. Meski mereka menuding adanya praktik perampokan aset oleh perbankan yang kini justru dilindungi oleh sistem, buruh tetap memilih melawan dengan cara mereka sendiri.

“Kalau hukum dipermainkan, kalau hukum dibeli, maka kita tegakkan dengan cara kita. Ini bukan soal emosi, ini soal hidup ribuan buruh,” katanya.

Aksi buruh Pakerin belum akan berhenti. Ia memastikan bahwa langkah lanjutan sudah disiapkan. Setelah dari Kemenkumham, buruh akan menggelar aksi ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

“Besok pagi setelah subuh, kita akan bergerak ke LPS. Karena setelah kunci perusahaan dibuka, persoalan berikutnya adalah bagaimana uang Pakerin bisa diambil dan perusahaan bisa hidup kembali,” tegasnya.

Dalam pernyataan yang menyentil keras pemerintah, Ia membandingkan keberanian negara menanggung kerugian besar di luar negeri dengan ketidakmampuan menyelesaikan penderitaan rakyatnya sendiri.

“Kalau negara bisa bayar kerugian triliunan di luar negeri, masa untuk rakyat pekerja sendiri tidak bisa? Masa untuk buruh Pakerin tidak ada solusi?” sindirnya.

Ia bersama FSPMI-KSPI Jawa Timur menegaskan bahwa perjuangan ini tinggal selangkah lagi. Namun jika langkah kecil itu terus dihambat oleh kepentingan elit, maka kemarahan buruh bisa berubah menjadi gelombang perlawanan yang lebih besar.

“Perjuangan ini mungkin tinggal sehari lagi di Jakarta. Tapi kalau keadilan masih dipermainkan, jangan salahkan buruh kalau perlawanan ini justru semakin meluas,” pungkasnya.