Tuban, KPonline – Kongres VII dan Munas FSPMI yang diselenggarakan pada tanggal 8-10 Februari 2026, menjadi momentum penting dalam merumuskan arah perjuangan organisasi, khususnya dalam mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru. Isu ini menjadi salah satu tuntutan paling mendesak yang disuarakan oleh PUK SPAI FSPMI, terutama dari kalangan buruh di Kabupaten Tuban.
Rangkaian Kongres VII dan Munas FSPMI 2026 menyimpan harapan besar dari kaum buruh agar aspirasi mereka benar-benar diperjuangkan oleh Presiden FSPMI terpilih, Suparno, S.H. Perjuangan menghadirkan regulasi ketenagakerjaan yang adil dan berpihak kepada buruh menjadi agenda utama yang harus dikawal secara serius oleh organisasi.
Tim Media Perdjoeangan Tuban berkesempatan menghubungi Ketua Konsulat Cabang FSPMI Tuban, Duraji, melalui sambungan Zoom. Dalam keterangannya, Duraji menegaskan bahwa Kongres VII dan Munas FSPMI 2026 harus menjadi momentum kebangkitan kelas pekerja, bukan sekedar agenda seremonial.
“Kami membawa harapan buruh di Kabupaten Tuban yang dititipkan kepada kami sebagai delegasi FSPMI Tuban dalam Kongres VII ini. Semua demi terwujudnya kesejahteraan buruh, khususnya di Kabupaten Tuban,” ujar Duraji.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam berbagai agenda yang telah disuarakan, FSPMI berharap pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru dapat terealisasi pada tahun ini. Harapan tersebut sejalan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 168/PUU-XXI/2023 yang dimenangkan melalui gugatan yang diajukan oleh Partai Buruh.
“Kalaupun tidak bisa mengubah banyak hal secara langsung, setidaknya kita bisa menunjukkan keberpihakan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Duraji menyoroti masih kuatnya doktrin di kalangan buruh agar tidak terlibat dalam urusan politik. Menurutnya, pandangan tersebut perlu diluruskan.
“Buruh tidak pernah benar-benar diberi pemahaman bahwa sistem ketenagakerjaan, akses pendidikan, kesehatan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik,” tegasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa kesadaran politik buruh merupakan kunci penting dalam memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan kelas pekerja ke depan.
“Buruh berserikat, buruh berpolitik, buruh Bermartabat dan sudah saatnya kembali ke rumah kita sendiri, yaitu Partai Buruh,” pungkas Duraji.
(Imam Mujaidin – Kontributor Tuban)



