Surabaya, KPonline–Dewan Pimpinan Wilayah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Jawa Timur (DPW FSPMI Jatim) menggelar kegiatan Halal Bihalal di kantor sekretariat DPW FSPMI Jatim, Jalan Simo Pomahan, Kota Surabaya, pada Sabtu (11/04/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh pimpinan FSPMI dari berbagai tingkatan, mulai dari Konsulat Cabang (KC), Pimpinan Cabang (PC), hingga Pimpinan Unit Kerja (PUK) lintas sektor se-Jawa Timur. Kehadiran para pengurus ini menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dan soliditas organisasi di wilayah Jawa Timur.
Momentum Halal Bihalal ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan pasca Hari Raya Idulfitri, tetapi juga dimanfaatkan sebagai forum konsolidasi menjelang aksi buruh yang akan digelar pada 16 April 2026. Aksi tersebut direncanakan sebagai pra-May Day atau pemanasan menuju peringatan Hari Buruh Internasional.
Dalam rapat persiapan tersebut, Ketua DPW FSPMI Jawa Timur, Jazuli, S.H., menegaskan bahwa isu yang akan diangkat dalam aksi tidak hanya terbatas pada persoalan ketenagakerjaan. Menurutnya, terdapat sejumlah isu strategis lain yang juga menyentuh kehidupan pekerja.
“Tidak hanya isu ketenagakerjaan, kami juga mengangkat isu pajak penghasilan bagi pekerja perempuan, serta usulan pembebasan pajak kendaraan bermotor di bawah 150 cc,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga mendorong adanya penambahan kuota afirmasi bagi pekerja menjadi 10 persen. Ia menilai, pekerja yang masuk dalam jalur afirmasi tidak perlu lagi menggunakan persyaratan seperti SKTM, SPM, maupun KIS, mengingat kontribusi pekerja terhadap negara melalui pajak dan perannya dalam mendukung perekonomian, khususnya di Jawa Timur.
“Pekerja telah banyak membantu pemerintah melalui pajak dan turut menggerakkan roda ekonomi. Sudah seharusnya ada keberpihakan kebijakan kepada mereka,” tegas Jazuli.
Tak hanya itu, isu kesehatan juga menjadi perhatian dalam agenda pra-May Day. DPW FSPMI Jatim mengusulkan program “Biasmaskin” sebagai jaring pengaman kesehatan bagi warga kurang mampu di Jawa Timur, yang konsepnya serupa dengan BPJS Kesehatan.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai makna Hari Buruh Internasional atau May Day. Tidak banyak yang mengetahui bahwa peringatan ini berawal dari peristiwa Haymarket di Chicago, Amerika Serikat, pada 1 Mei 1886. Saat itu, ratusan ribu buruh melakukan aksi menuntut pemberlakuan sistem kerja delapan jam: delapan jam kerja, delapan jam istirahat, dan delapan jam untuk kehidupan pribadi.
Perjuangan tersebut kemudian mendapat pengakuan internasional pada tahun 1889, ketika Kongres Sosialis Internasional di Paris menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Di Indonesia sendiri, May Day menjadi momentum untuk menyuarakan tuntutan kenaikan upah, perbaikan kondisi kerja, serta perlindungan hak-hak pekerja. Sejak tahun 2014, pemerintah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.
Secara umum, peringatan Hari Buruh di berbagai daerah diwarnai dengan aksi unjuk rasa dan penyampaian aspirasi oleh serikat pekerja kepada pemerintah maupun pengusaha. Lebih dari itu, May Day juga menjadi simbol solidaritas global dalam memperjuangkan martabat dan kesejahteraan pekerja.
Melalui kegiatan Halal Bihalal ini, DPW FSPMI Jatim berharap seluruh elemen organisasi semakin solid dan siap memperjuangkan aspirasi pekerja secara terorganisir dan bermartabat dalam momentum May Day mendatang.