Gemuruh Saman di Kongres V Partai Buruh: Simbol Solidaritas di Jantung Kelapa Gading

Gemuruh Saman di Kongres V Partai Buruh: Simbol Solidaritas di Jantung Kelapa Gading
Foto by Pijar (perhimpunan jurnalis rakyat)

Jakarta, KPonline–Suasana di Sport Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (19/1/2026) mendadak berubah menjadi lautan energi pada pembukaan Kongres V Partai Buruh. Bukan hanya karena riuh rendah orasi politik, melainkan karena dentuman ritme dan kecepatan gerak puluhan penari Saman yang berhasil menyihir ribuan pasang mata peserta kongres.

Penampilan tari tradisional asal Tanah Gayo, Aceh ini bukan sekadar selingan seremonial. Di tengah kepulan semangat perjuangan kelas pekerja, tari Saman hadir sebagai metafora sempurna bagi napas perjuangan buruh: keselarasan, kecepatan, dan solidaritas tanpa batas.

Begitu lampu aula utama diredupkan, suara tepukan tangan dan dada mulai beradu. Tanpa iringan alat musik, hanya mengandalkan vokal yang melengking khas dan bunyi perkusi tubuh, para penari memperagakan gerakan leveling yang semakin lama semakin cepat.

“Kami sengaja menghadirkan Saman karena tari ini adalah simbol kerja tim yang ekstrem. Jika satu orang saja salah gerak, maka hancur seluruh formasi. Begitu juga dengan gerakan buruh; kita harus satu irama untuk mencapai tujuan,” ujar salah satu panitia penyelenggara di sela-sela acara.

Sport Mall Kelapa Gading yang biasanya menjadi arena olahraga, kali ini bertransformasi menjadi panggung budaya yang megah. Para peserta kongres yang datang dari berbagai pelosok Indonesia tampak berdiri dari kursinya, mengabadikan momen lewat ponsel pintar mereka. Tepuk tangan meriah pecah setiap kali para penari melakukan transisi gerakan sulit dengan sinkronisasi yang presisi.

Kehadiran tari Saman di pembukaan Kongres V ini memberikan warna yang berbeda. Di satu sisi, ada ketegangan politik dan agenda besar organisasi, namun di sisi lain, ada kehangatan identitas nasional yang mempererat rasa persaudaraan antar-serikat pekerja.

Bagi banyak peserta, momen ini menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh adalah perjuangan kebudayaan. Kekompakan para penari Saman yang bahu-membahu dalam kecepatan tinggi dianggap merepresentasikan semangat “Satu Dekade Perjuangan” yang menjadi tema besar kongres kali ini.

Setelah pertunjukan berakhir, riuh sorakan “Hidup Buruh!” menggema, bersahutan dengan sisa-sisa gema tepukan penari Saman yang masih terasa di udara. Pembukaan Kongres V Partai Buruh ini bukan saja menjadi ajang konsolidasi politik, tetapi juga sebuah panggung yang merayakan kekayaan budaya sebagai bahan bakar semangat juang para pekerja di Indonesia.