Gelombang PHK Kembali Terjang Amazon, 30 Ribu Pekerja Terancam Terdampak

Gelombang PHK Kembali Terjang Amazon, 30 Ribu Pekerja Terancam Terdampak

Seattle, KPonline-Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam raksasa teknologi Amazon. Perusahaan asal Amerika Serikat itu dikabarkan akan melakukan pengurangan karyawan sekitar minggu depan, dengan jumlah mencapai 30.000 pekerja.

Informasi tersebut dilaporkan Reuters pada Senin (26/1/2026), mengutip dua sumber yang mengetahui rencana internal perusahaan. PHK ini disebut-sebut berkaitan dengan pesatnya perkembangan dan penerapan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di tubuh Amazon.

Jumlah tersebut memang hanya sebagian kecil dari total sekitar 1,58 juta karyawan Amazon di seluruh dunia. Namun, jika terealisasi, langkah ini akan menjadi PHK terbesar yang pernah dilakukan Amazon dalam tiga dekade terakhir, melampaui pemangkasan 27 ribu pekerja pada 2022.

Sumber Reuters menyebutkan, pengurangan karyawan diperkirakan akan berdampak pada sejumlah unit strategis, seperti ritel, Amazon Web Services (AWS), Prime Video, serta divisi sumber daya manusia. Meski demikian, cakupan dan detail rencana PHK masih belum sepenuhnya jelas dan berpotensi berubah.

Hingga kini, juru bicara Amazon menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.

Ini akan menjadi PHK kedua dalam waktu berdekatan, setelah sebelumnya Amazon memangkas sekitar 14.000 pekerja pada Oktober lalu. Saat itu, perusahaan mengaitkan kebijakan tersebut dengan peningkatan penggunaan software berbasis AI yang mendorong efisiensi dan inovasi lebih cepat.

Meski demikian, CEO Amazon Andy Jassy sebelumnya menegaskan bahwa PHK bukan semata-mata disebabkan faktor keuangan maupun AI. Dalam laporan kinerja kuartal ketiga, ia menyebut pemangkasan karyawan dilakukan untuk memangkas birokrasi yang terlalu berlapis dan menyederhanakan budaya kerja.

“Pada akhirnya Anda memiliki lebih banyak orang dan lebih banyak lapisan organisasi daripada yang dibutuhkan,” ujarnya.

Di sisi lain, Jassy juga mengakui bahwa ke depan jumlah tenaga kerja Amazon kemungkinan akan terus berkurang seiring meningkatnya efisiensi berkat pemanfaatan AI.

Amazon sendiri merupakan salah satu perusahaan teknologi global yang paling agresif mengembangkan dan mengadopsi AI. Teknologi ini digunakan untuk penulisan kode perangkat lunak hingga otomatisasi tugas-tugas rutin. Terbaru, Amazon juga mempromosikan model AI mutakhir dalam konferensi tahunan AWS pada Desember lalu.

Didirikan Jeff Bezos pada 1994, Amazon.com, Inc. kini menjelma menjadi raksasa e-commerce dan teknologi dengan valuasi triliunan dolar, serta menjadi salah satu perusahaan paling berpengaruh di dunia.