Bekasi, KPonline-Sebagai salah satu pilar penting dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Garda Metal kembali menegaskan komitmennya terhadap soliditas organisasi dengan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) V. Kegiatan tersebut berlangsung di Omah Buruh, Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada Senin (13/4/2026), dengan mengusung tema “Bagi Kami Lebih Penting Persatuan Dari Sekadar Jabatan.”
Tema ini bukan sekadar slogan seremonial. Ia mencerminkan realitas dinamika organisasi buruh yang kerap diuji oleh kepentingan internal maupun eksternal. Di tengah derasnya arus pragmatisme jabatan, Garda Metal justru mengedepankan nilai persatuan sebagai fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan perjuangan kelas pekerja.
Sebelum agenda musyawarah dimulai, Sekretaris Nasional Garda Metal FSPMI, Isnani Marzuki, memberikan arahan tegas namun penuh pesan moral kepada seluruh kader yang hadir. Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya menjaga etika dalam proses musyawarah.
“Saya ingin menyatakan kepada seluruh kader, pada kesempatan musyawarah ini, bermusyawarahlah dengan etika yang baik dan benar. Bacalah Peraturan Organisasi (PO) dengan sebaik-baiknya, sehingga kawan-kawan bisa bermusyawarah tanpa adanya halangan dan kendala apapun,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi semacam pengingat bahwa organisasi buruh tidak hanya soal perlawanan terhadap ketidakadilan, tetapi juga tentang bagaimana mengelola perbedaan secara dewasa di dalam tubuh organisasi itu sendiri. Musyawarah, dalam konteks ini, bukan ajang adu kuat kepentingan, melainkan ruang kolektif untuk mencari titik temu demi kepentingan bersama.
Lebih lanjut, Isnani juga berharap agar Munas V ini mampu melahirkan kepemimpinan nasional yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga memiliki integritas dan amanah.
“Semoga dalam Musyawarah Nasional ini, kawan-kawan bisa memilih pimpinan nasional Garda Metal yang lurus dan amanah,” tambahnya.
Harapan tersebut sejalan dengan tantangan yang dihadapi gerakan buruh saat ini. Di tengah perubahan regulasi ketenagakerjaan, tekanan industri, serta dinamika politik nasional, organisasi buruh dituntut memiliki kepemimpinan yang tidak hanya vokal, tetapi juga visioner dan mampu menjaga kepercayaan anggotanya.
Tak hanya berhenti pada internal Garda Metal, Isnani juga menyampaikan pesan kepada “rumah besar” mereka, yakni Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. Ia berharap federasi dapat terus menjadi teladan dalam pengelolaan organisasi yang baik, benar, dan damai.
“Kepada rumah besar kami, Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, kami berharap kelola organisasi dengan baik, dengan benar, dengan damai, sehingga kami bisa meneladani,” tuturnya.
Pernyataan ini secara tidak langsung menjadi refleksi bahwa kekuatan organisasi buruh tidak hanya terletak pada jumlah massa, tetapi juga pada kualitas tata kelola dan keteladanan kepemimpinan. Dalam dunia pergerakan, legitimasi moral sering kali lebih menentukan daripada sekadar legitimasi struktural.
Munas V Garda Metal ini diperkirakan akan menjadi momentum penting dalam menentukan arah organisasi ke depan, termasuk dalam merespons berbagai isu strategis yang dihadapi buruh Indonesia. Dengan mengedepankan persatuan di atas kepentingan jabatan, Garda Metal mencoba mengirim pesan kuat bahwa perjuangan tidak boleh terpecah hanya karena ambisi kekuasaan internal.
Di tengah realitas gerakan buruh yang kerap diwarnai friksi, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya merawat idealisme bahwa solidaritas bukan sekadar jargon, melainkan prinsip yang harus dijaga, bahkan ketika godaan kekuasaan datang menghampiri.