Mojokerto, KPonline – “Belum disebut foto jika file gambar belum dicetak di kertas.” Kalimat sederhana ini justru menjadi pemantik lahirnya sebuah galeri foto yang mencuri perhatian peserta MUSNIK IX PUK SPL FSPMI PT Pakarti Riken Indonesia.
Galeri sederhana tersebut dihadirkan oleh Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) dalam rangkaian Musyawarah Unit Kerja (MUSNIK) IX yang digelar di Vanda Gardenia Hotel, Trawas, Mojokerto, Sabtu–Minggu (17–18 Januari 2026).
Hampir seribu foto hasil dokumentasi kegiatan organisasi selama empat tahun terakhir, periode 2022–2026, dicetak dan ditata di atas satu meja panjang tanpa album. Foto-foto tersebut disusun kronologis berdasarkan tahun, menampilkan beragam momen penting organisasi : aksi, pendidikan, konsolidasi, pelatihan dasar, hingga forum Rakernik, Rakernas, dan kegiatan keagamaan.
Sementara dokumentasi sebelum tahun 2022 ditampilkan melalui slideshow di layar monitor, memberikan gambaran perjalanan panjang PUK sebelum periode kepengurusan terakhir.
Awalnya, galeri ini dirancang hanya sebagai ruang nostalgia. Peserta MUSNIK dipersilakan melihat dan menikmati foto, lalu mengembalikannya karena seluruh cetakan tersebut dianggap sebagai arsip sejarah organisasi.
Menariknya, sebelum acara dimulai, meja galeri nyaris tak dilirik. Namun situasi berubah drastis saat sesi coffee break. Satu per satu peserta mulai mendekat, mengambil foto, menunjuk wajah-wajah lama, dan berbagi cerita tentang momen yang pernah mereka alami bersama.
Tak sedikit peserta kemudian memilih foto yang memuat diri mereka atau peristiwa berkesan, dan membawanya pergi. Melihat antusiasme tersebut, Tim Infokom akhirnya mempersilakan foto-foto itu dibawa pulang sebagai suvenir MUSNIK.
“Bagaimanapun foto-foto ini dicetak dari anggaran anggota. Jika bisa menjadi kenangan yang dibawa pulang, itu justru lebih bermakna,” ujar Jarwo, salah satu anggota Tim Infokom.
Menurutnya, pengalaman ini membuktikan bahwa dokumentasi foto cetak masih memiliki daya magis tersendiri. Ia mampu “menghentikan waktu”, memantik memori, dan menghidupkan kembali cerita-cerita kolektif yang menjadi fondasi organisasi.
Ke depan, Tim Infokom berencana menjadikan galeri foto cetak sebagai agenda rutin di setiap kegiatan organisasi. “Respons anggota luar biasa. Ini menjadi pengingat bahwa kerja-kerja dokumentasi kami ternyata benar-benar dirasakan manfaatnya,” tambah Jarwo. (Khoirul Anam)