Purwakarta, KPonline–Situasi geopolitik dan ekonomi dunia yang kian memanas akibat perang dagang antara Amerika Serikat, China, dan Rusia telah membawa dampak sistemik hingga ke lini produksi di Indonesia. Melemahnya ekonomi global memicu perlambatan di berbagai sektor industri, yang berujung pada hilangnya jam lembur hingga ancaman pengurangan karyawan secara bertahap.
Menghadapi tantangan berat ini, Ketua Konsulat Cabang FSPMI (KC FSPMI), Fuad BM, memberikan arahan strategis yang krusial bagi masa depan organisasi. Ia menegaskan bahwa serikat buruh tidak boleh lagi hanya mengandalkan pola perjuangan konvensional di jalanan, melainkan harus mulai memperkuat pertahanan dari dalam melalui agenda besar yang ia sebut sebagai “Berbenah Diri”.
”Kita harus realistis. Saat perusahaan goyang dan tekanan manajemen meningkat, anggota yang paling rapuh adalah mereka yang tidak siap secara internal. Jika kita tidak segera berbenah, serikat buruh hanya akan tinggal kenangan,” tegas Fuad BM dalam pernyataan resminya.
Fuad BM merumuskan tiga pilar utama yang harus segera dijalankan oleh jajaran pengurus serikat di tingkat unit kerja maupun oleh anggota secara individu:
1. Penguatan Literasi Finansial
Pilar pertama berkaitan langsung dengan “isi kantong” anggota. Fuad menyoroti banyaknya anggota yang terjebak dalam krisis pribadi karena terlilit utang atau tidak memiliki tabungan saat kondisi industri melambat.
Menurutnya, serikat harus berperan aktif mengedukasi anggota mengenai manajemen keuangan. Tujuannya jelas agar setiap anggota mampu mengelola pendapatan mereka tetap surplus meskipun lembur berkurang, sehingga tidak terjebak dalam lingkaran utang piutang (terutama pinjol atau bank emok) yang bisa menghancurkan ketahanan keluarga di masa sulit.
2. Penyediaan Bimbingan Strategi Bertahan (Survival Mode)
Pilar kedua menyasar para anggota yang bekerja di perusahaan dengan kondisi keuangan yang sedang goyah. Fuad menekankan pentingnya serikat memberikan bimbingan teknis mengenai survival mode.
Bimbingan ini mencakup pemahaman hak-hak normatif di masa krisis, peningkatan efektivitas kerja agar posisi tawar pekerja tetap terjaga, hingga persiapan mental jika sewaktu-waktu terjadi efisiensi. Dengan pembekalan ini, anggota diharapkan mampu bertahan hidup dan tetap tenang meskipun badai industri menerpa perusahaan mereka.
3. Pemantapan Solidaritas Organisasi
Pilar ketiga adalah mempertebal rasa memiliki terhadap organisasi. Fuad BM melihat adanya tren anggota yang memilih mundur atau resign karena merasa sendirian saat menghadapi tekanan manajemen.
”Kita harus memastikan tidak ada satu pun anggota yang merasa berjuang sendirian. Solidaritas organisasi harus dimantapkan agar menjadi jaring pengaman sosial dan mental. Ketika manajemen menekan, serikat harus hadir sebagai pelindung yang solid,” lanjutnya.
Penekanan pada tiga pilar ini merupakan bentuk kritik konstruktif Fuad BM terhadap arah gerakan buruh saat ini. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan aksi demonstrasi dan lobi politik akan menjadi sia-sia jika basis massa di tingkat bawah rapuh secara ekonomi dan mental.
Fenomena keluarnya anggota dari keanggotaan serikat adalah lampu kuning yang harus segera direspon. Fuad mengajak seluruh kader untuk tidak hanya fokus pada pergerakan eksternal, tetapi mulai serius memperkuat ekonomi dan mentalitas anggota dari dalam.
”Mari kawan-kawan, kita mulai dari kesadaran diri masing-masing. Berbenah diri adalah kunci agar kita tidak hanya bertahan, tapi mampu keluar dari tekanan ini sebagai pemenang. Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa kita menyerah pada keadaan,” pungkas Fuad BM menutup pernyataannya.
Pesan kuat ini kini menjadi mandat bagi seluruh jajaran FSPMI untuk segera melakukan konsolidasi internal demi menjaga martabat dan keberlangsungan kaum buruh di masa depan.