FSPMI Siapkan Aksi Besar 16 April Dengan Konvoi Motor, Suparno Tegaskan Gerakan Harus Kembali Militan

FSPMI Siapkan Aksi Besar 16 April Dengan Konvoi Motor, Suparno Tegaskan Gerakan Harus Kembali Militan
Presiden DPP FSPMI, Suparno Dalam giat Konsolidasi Akbar Garda Metal FSPMI Kabupaten Bekasi | Foto by Ocha Hermawan

Bekasi, KPonline-Konsolidasi Akbar Garda Metal FSPMI Kabupaten Bekasi yang bertemakan “Bagi Kami Lebih Penting Persatuan dari Sekedar Jabatan”. dan berlangsung di New Omah Buruh, kawasan industri Delta Silicon 3, Cikarang, Minggu (12/4/2026), menjadi panggung penegasan arah gerakan buruh FSPMI ke depan.

Dalam Konsolidasi, Presiden Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Suparno, menyerukan kesiapan penuh menghadapi aksi besar yang akan digelar pada 16 April mendatang di DPR RI dan DPRD.

Kemudian, dihadapan ratusan (600) peserta konsolidasi, Suparno menegaskan bahwa aksi kali ini akan dilakukan secara mandiri oleh FSPMI tanpa melibatkan koalisi organisasi lain. Hal ini, menurutnya, menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa FSPMI tetap solid sebagai kekuatan gerakan buruh di Indonesia.

“Pada tanggal 16 kita aksi di DPR. Kita aksi single hanya FSPMI. Kita ingin tunjukkan kepada negara bahwa FSPMI masih solid sebagai organisasi gerakan buruh,” tegasnya.

Suparno memaparkan bahwa rangkaian konsolidasi telah dilakukan di berbagai daerah, mulai dari Palembang hingga Jakarta, Bogor, dan Depok. Ia menyebut seluruh agenda tersebut berjalan penuh dan menunjukkan antusiasme tinggi dari anggota.

Bekasi sendiri disebut sebagai titik penting menjelang aksi. Konsolidasi lanjutan dijadwalkan pada 14 April untuk memastikan kesiapan massa sebelum turun ke jalan dua hari setelahnya.

“Harapannya konsolidasi ini bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar mempersiapkan aksi tanggal 16 dan juga agenda besar Mei nanti,” ujarnya.

Dalam aksi 16 April nanti, kata Suparno, FSPMI akan membawa dua tuntutan utama, mendesak pemerintah segera mengesahkan undang-undang ketenagakerjaan yang baru. Kedua, memperjuangkan kenaikan upah yang dinilai layak bagi buruh.

Suparno juga menyinggung sejumlah janji pemerintah yang dinilai belum terealisasi, termasuk penghapusan outsourcing dan pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT).

Ia menyebut, hingga kini baru satu janji yang terpenuhi, yakni pengangkatan Marsinah sebagai pahlawan nasional. Namun menurutnya, hal tersebut belum memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan buruh.

“Secara psikologis bagus, tapi secara materiil belum ada dampaknya bagi buruh,” ungkapnya.

Suparno juga menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Ia menilai, meskipun presiden memiliki niat baik terhadap buruh, implementasi kebijakan di tingkat kementerian masih belum berjalan efektif.
“Masalahnya bukan hanya di kebijakan, tapi di pelaksanaannya. Percuma kalau di atas bagus tapi di bawah tidak dijalankan,” katanya.

Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam rencana aksi kali ini adalah penggunaan konvoi motor sebagai moda utama mobilisasi massa. Suparno mendorong anggota FSPMI untuk tidak bergantung pada fasilitas transportasi seperti bus, melainkan bergerak mandiri.

Ia bahkan menargetkan ribuan motor dari Bekasi untuk ikut serta dalam konvoi menuju DPR RI. Selain efisiensi, strategi ini dinilai mampu menunjukkan kekuatan gerakan secara visual kepada publik dan pemerintah.

“Kita ingin dari berangkat sampai pulang, aksi ini terlihat. Dari jalan sampai titik aksi, semua melihat bahwa kita serius,” ujarnya.

Tak hanya itu, aksi juga direncanakan berlangsung hingga malam hari jika diperlukan, dengan pengamanan internal yang diperkuat (Garda Metal) guna mengantisipasi potensi gangguan.

Selanjutnya, Suparno mengungkapkan bahwa aksi ini tidak hanya terpusat di satu titik. FSPMI akan menggelar aksi serentak di 16 provinsi, dengan sasaran kantor DPRD di masing-masing daerah.
Selain wilayah Jabodetabek dan sekitarnya seperti Karawang, Bogor, dan Bandung Raya, massa dari daerah kabupaten lainnya akan digerakkan menuju kantor DPRD. Tujuannya adalah menekan DPRD agar mengeluarkan rekomendasi kepada DPR RI untuk segera mengesahkan undang-undang ketenagakerjaan yang baru.

Dalam penutupnya, Suparno mengingatkan pentingnya mengembalikan semangat gerakan buruh seperti masa lalu, yang tidak bergantung pada fasilitas, tetapi bertumpu pada militansi dan kesadaran anggota.

Ia juga menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada struktur, melainkan pada soliditas anggota di lapangan.

“Memimpin gerakan buruh itu tidak soal jabatan. Yang penting bagaimana kita bergerak sampai ke bawah,” tegasnya.

Konsolidasi ini menjadi sinyal kuat bahwa FSPMI tengah mempersiapkan diri untuk kembali menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu kekuatan utama gerakan buruh nasional, dengan aksi 16 April sebagai ujian awal dari konsolidasi tersebut.