FSPMI Perkuat Basis di Jantung Nikel Dunia, Nur Yasin Targetkan 82 Ribu Pekerja Morowali Terorganisir

FSPMI Perkuat Basis di Jantung Nikel Dunia, Nur Yasin Targetkan 82 Ribu Pekerja Morowali Terorganisir

Morowali, KPonline – Upaya memperkuat struktur dan basis keanggotaan serikat pekerja terus digencarkan Dewan Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Kali ini, agenda pengorganisasian digelar selama dua hari di kawasan industri nikel Morowali, Sulawesi Tengah, yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi nikel terbesar di dunia.

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Nur Yasin tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan buruh di sektor pertambangan dan pengolahan nikel.

Bacaan Lainnya

Dalam arahannya, Nur Yasin menegaskan pentingnya keseimbangan antara besarnya keuntungan industri nikel dengan kesejahteraan para pekerja.

“Sebagai penyuplai nikel terbesar, kita harus memastikan bahwa buruh mendapatkan bagian yang adil dari keuntungan ini,” tegasnya.

Agenda ini dihadiri oleh 23 perwakilan dari berbagai perusahaan sektor logam dan pertambangan di Morowali. Diskusi terfokus pada strategi akselerasi pertumbuhan anggota FSPMI, termasuk pembentukan Pimpinan Komisariat (PK) baru di sejumlah perusahaan.

Potensi besar terlihat di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang menaungi sekitar 82.000 pekerja. Angka tersebut menjadi target strategis pengembangan keanggotaan dan penguatan basis organisasi di tingkat perusahaan.

Menurut Nur Yasin, perencanaan yang matang dan kerja kolektif menjadi kunci dalam mencapai target yang telah ditetapkan DPP FSPMI.

“Kita harus bekerja bersama, terstruktur, dan terencana untuk memperluas keanggotaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan buruh di Morowali,” ujarnya.

Selain membahas ekspansi organisasi, forum juga mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi buruh, mulai dari upah yang dinilai belum sebanding dengan risiko kerja, hingga isu keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan industri smelter.

Tak hanya itu, peserta juga menyoroti pentingnya supply chain nikel yang adil dan transparan. Mereka menilai bahwa rantai pasok yang sehat harus memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi pekerja sebagai bagian utama dalam proses produksi.

Dalam sesi diskusi, disepakati pula pentingnya meningkatkan partisipasi aktif buruh dalam kegiatan serikat pekerja serta membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya organisasi sebagai alat perjuangan.

FSPMI menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan hak-hak buruh di Morowali, sekaligus membuka ruang dialog dan kerja sama dengan perusahaan guna menciptakan hubungan industrial yang berkeadilan.

Agenda dua hari ini ditutup dengan komitmen bersama seluruh peserta untuk memperkuat organisasi, memperluas jaringan PK, dan menjadikan Morowali sebagai basis perjuangan strategis FSPMI di sektor industri nikel nasional.

Dengan langkah ini, FSPMI optimistis pengorganisasian di Morowali akan menjadi tonggak penting dalam memperjuangkan kesejahteraan buruh di jantung industri nikel dunia.

Pos terkait