Pelalawan, KPonline- Rendahnya minat pekerja informal seperti pedagang kaki lima, tukang becak, buruh harian, hingga pengemudi ojek online untuk mengikuti program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) BPJS Ketenagakerjaan masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pelalawan, Jum’at (23/01/2026).
Berbagai faktor menjadi penyebab rendahnya partisipasi tersebut. Di antaranya adalah penghasilan harian yang tidak tetap, rendahnya pemahaman tentang manfaat jaminan sosial, anggapan iuran sebagai beban tambahan, hingga ketidaktahuan terhadap prosedur administrasi pendaftaran dan klaim. Selain itu, sosialisasi yang belum menjangkau langsung komunitas pekerja informal serta tunggakan iuran yang menyebabkan status kepesertaan tidak aktif turut memperparah kondisi.
Menjawab tantangan tersebut, FSPMI Pelalawan mengambil peran strategis dengan menjadi wadah Perisai BPJS Ketenagakerjaan, mendorong anggota FSPMI untuk terlibat aktif sebagai Agen Perisai dalam mensosialisasikan pentingnya perlindungan jaminan sosial bagi pekerja informal.
Ketua DPW FSPMI Riau, Satria Putra, menegaskan bahwa kehadiran FSPMI sebagai mitra BPJS Ketenagakerjaan bukan hanya sebatas formalitas, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial organisasi buruh dalam melindungi seluruh lapisan pekerja, termasuk sektor informal yang selama ini rentan terhadap risiko kerja.
Menurutnya, kecelakaan kerja dan kematian bisa terjadi kapan saja, tanpa memandang status formal atau informal seorang pekerja. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan dan pendekatan langsung ke masyarakat menjadi kunci utama meningkatkan kesadaran dan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
FSPMI Pelalawan bersama Agen Perisai dari unsur anggota FSPMI terus melakukan pendekatan sosial, edukasi lapangan, dan pendampingan administratif agar pekerja informal tidak lagi merasa takut, bingung, atau terbebani dalam mengikuti program jaminan sosial ketenagakerjaan.
“Pekerja informal adalah kelompok yang paling rentan terhadap risiko kecelakaan kerja dan kematian, namun justru paling minim perlindungan. Ini menjadi keprihatinan kami. FSPMI hadir sebagai wadah Perisai BPJS Ketenagakerjaan untuk menjembatani kebutuhan tersebut,” ujar Satria Putra, Ketua DPW FSPMI Riau.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya pekerja informal di Kabupaten Pelalawan, agar tidak ragu menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Iuran yang relatif terjangkau tidak sebanding dengan manfaat perlindungan yang didapatkan ketika risiko kerja terjadi,” lanjutnya.
“Saya juga terus memotivasi dan mengedukasi Agen Perisai dari anggota FSPMI agar aktif turun ke lapangan, terlibat dalam kegiatan sosial, dan menjadi garda terdepan dalam menyampaikan pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan. Ini bukan hanya program negara, tetapi bentuk solidaritas dan perlindungan bagi sesama pekerja,” tegas Satria Putra.