Purwakarta, KPonline-Saat regulasi atau kebijakan tidak berpihak kepada rakyat pekerja, ada suara yang terus bergema dari jalanan hingga ruang legislatif. Suara buruh yang tak bisa diabaikan. Suara itu tak lain datang dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang berafiliasi dengan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), organisasi yang oleh banyak pengurus dan aktivis buruh disebut sebagai motor utama gerakan buruh di Indonesia.
“Ini bukan sekadar serikat,” tegas Supriyadi alias Piyong, Panglima Koordinator Nasional (Pangkornas) Garda Metal FSPMI, dalam sebuah konsolidasi yang digelar di Purwakarta. “FSPMI sudah 27 tahun berjuang dan ia adalah sumbu gerakan buruh Indonesia yang akan terus memutar roda perjuangan pekerja untuk hak hidup layak, upah adil, dan keadilan sosial”
Dalam berbagai momentum aksi buruh nasional, termasuk peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), FSPMI tampil bukan sebagai peserta pasif, tetapi sebagai penggerak tuntutan konkret. Aksi besar di Jakarta dan Surabaya misalnya, mempertemukan ribuan buruh yang menuntut lebih dari sekadar perhatian simbolik. Mereka menuntut upah layak, jaminan sosial yang adil, dan penghormatan terhadap hak pekerja.
Tak hanya di jalan, FSPMI juga mencatat keberhasilan advokasi melalui jalur hukum dan negosiasi serius, perlindungan tenaga kerja dari praktik PHK sepihak dan kontrak yang merugikan pekerja.
Dimana diantaranya mampu menyelamatkan pekerja PT. Yamaha Music Manufacturing Asia (Slamet Bambang Waluyo-Wiwin Zaini Miftah) yang hampir masuk ke Jurang PHK, hingga bisa dipekerjakan kembali.
Selain itu, Organisasi ini pun aktif mendorong kenaikan upah minimum dan penetapan Upah Minimum Sektoral (UMSK) di banyak daerah industri, sebuah pencapaian yang membuka peluang kehidupan layak bagi pekerja lokal.
Keberhasilan lain, FSPMI membantu ribuan buruh mendapatkan hak pesangon, tunjangan, dan status kerja yang jelas melalui pendampingan hukum dan advokasi di pengadilan hubungan industrial.
Namun, Perjuangan itu tak selalu mulus. Ketika media dan pihak tertentu menyudutkan aksi buruh sebagai “merugikan investasi”, FSPMI membalas tegas. Ketua Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta, Fuad BM menyatakan bahwa suara buruh bukan penghambat investasi, justru ketidakadilan hubungan kerja yang tak terselesaikan yang membuat investor ragu. “Aksi ini bukan merugikan investasi. Justru kami (FSPMI) menuntut penyelesaian masalah ketenagakerjaan yang berlarut,” ujarnya.
Pernyataan seperti itu menunjukkan sikap FSPMI yang tidak takut menghadapi kritik, bahkan saat perjuangan itu diputarbalikkan untuk melawan keadilan pekerja.
FSPMI tidak hanya berorasi di jalanan. Organisasi ini juga gencar melakukan pendidikan dan pelatihan anggota, mulai dari hukum ketenagakerjaan hingga teknik negosiasi dan organisasi. Langkah ini dimaksudkan agar kaum buruh tak hanya berteriak di aksi, tetapi juga memahami strategi perjuangan yang efektif.
Sekretaris Jenderal FSPMI, Sabilar Rosyad pernah menekankan pentingnya kaderisasi berkelanjutan dalam suatu forum di Purwakarta. Menurutnya, kemampuan organisasi buruh ditentukan tidak hanya oleh jumlah massa, tetapi oleh kualitas kadernya sendiri.
Sebagai bagian dari cikal-bakal gerakan buruh modern pasca-Reformasi, FSPMI telah melewati dekade penuh tantangan sejak dibentuk pada akhir 1990-an. Perubahan hukum ketenagakerjaan di Indonesia memberi ruang baru bagi kebebasan berserikat dan FSPMI menjadi salah satu organisasi yang tumbuh paling kuat dalam konteks itu.
Namun perjuangan ini tetap kontroversial. Sejumlah pihak melihat aksi buruh, terutama yang berlangsung besar-besaran bukan sekadar tuntutan ekonomi, tetapi juga sebagai kritik tajam terhadap struktur kekuasaan yang dianggap abai pada hak pekerja. Bagi FSPMI, kontroversi itu bukan ancaman — melainkan bukti bahwa gerakan buruh masih relevan dan hidup.
FSPMI telah menjadi akar dari banyak aksi buruh di Indonesia. Mulai dari tuntutan upah layak, penolakan kebijakan yang merugikan pekerja, hingga pendampingan kasus ketenagakerjaan yang berujung kemenangan. Testimoni dan bukti nyata dari berbagai lapangan menunjukkan bahwa FSPMI berperan sebagai motor gerakan buruh Indonesia agresif dalam tuntutan, tegas dalam pernyataan, dan gigih dalam perjuangan.