Jakarta, KPonline-Ketika sebagian besar warga ibu kota terlelap, denyut perjuangan kaum buruh justru semakin terasa di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Menjelang Minggu (8/1/2026) pagi, Hotel Mercure Ancol menjadi saksi bisu kesibukan luar biasa Panitia Kongres VII dan Musyawarah Nasional (Munas) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Kongres VII ini dipersiapkan dengan penuh kesungguhan, bahkan hingga dini hari.
Sekretaris Jenderal FSPMI, Sabilar Rosyad, menegaskan bahwa persiapan Kongres VII FSPMI telah mencapai sekitar 70 persen dan terus dikebut tanpa mengenal waktu. Hal itu disampaikannya saat ditemui bersama Media Perdjoeangan, Garda Metal, serta jajaran Organizing Committee (OC) dan Steering Committee (SC) Kongres.
“Pada malam menjelang pagi ini, dini hari, bersama teman-teman Media, Garda Metal, seluruh panitia, OC dan SC Kongres, semuanya masih bersemangat mempersiapkan seluruh keperluan untuk pelaksanaan Kongres besok,” ujar Sabilar Rosyad.
Menurutnya, Kongres VII FSPMI adalah sebuah momentum yang menentukan arah gerakan buruh ke depan. Oleh karena itu, tidak ada ruang untuk persiapan setengah-setengah. Seluruh elemen organisasi dikerahkan demi memastikan pelaksanaan Kongres berjalan tertib, lancar, dan bermartabat.
“Saya sebagai Sekjen, bersama Presiden FSPMI tentunya, menyampaikan rasa bangga kepada teman-teman semua. Media Perdjoeangan, Garda Metal, dan seluruh tim yang bekerja keras sampai dini hari, tiada lelah,” tegasnya.
Sabilar menambahkan, semangat kolektif ini mencerminkan watak asli FSPMI sebagai organisasi perjuangan, bukan sekadar organisasi seremonial. Baginya, kerja hingga dini hari adalah simbol kesungguhan dan tanggung jawab moral kepada ribuan anggota FSPMI di seluruh Indonesia.
“Bagaimana supaya Kongres besok ini berjalan dengan baik, tertib, dan kita bisa menjamu rekan-rekan kita dari seluruh Indonesia Raya dengan penuh hormat,” lanjutnya.
Terkait jumlah peserta, Sabilar mengungkapkan bahwa Kongres VII FSPMI akan dihadiri oleh sekitar 1.200 hingga 1.400 peserta, bahkan memungkinkan mencapai 1.500 orang, sesuai dengan kapasitas ballroom Hotel Mercure Ancol yang telah disiapkan panitia.
“Kurang lebih peserta Kongres besok itu sekitar 1.200 sampai 1.400, bahkan maksimal 1.500. Kapasitas hotel yang kita siapkan ini, khususnya aula dan ballroom, memang kita rancang untuk menampung itu,” jelasnya.
Kongres VII FSPMI diyakini akan menjadi panggung penting konsolidasi nasional buruh metal Indonesia. Di tengah tekanan global, ketidakpastian ekonomi, dan tantangan regulasi ketenagakerjaan, Kongres ini dipandang sebagai ajang menentukan sikap politik organisasi, arah perjuangan, serta kepemimpinan FSPMI ke depan.
Kesibukan hingga dini hari di Ancol bukan sekadar cerita teknis persiapan. Ia adalah sebuah pesan bahwa FSPMI tidak pernah tidur ketika masa depan buruh dipertaruhkan. Dari lorong hotel hingga ballroom Kongres, satu tekad pun bergema, yaitu perjuangan buruh harus disiapkan dengan disiplin, militansi, dan tanggung jawab penuh.