Jakarta, KPonline-Perang narasi di media sosial tak lagi bisa dikesampingkan. Kesadaran itulah yang mendorong Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) dan Danish Trade Union Development Agency (DTDA) beserta ITUC Asia Pasifik selenggarakan In-House Training Social Media selama tiga hari. Senin-Rabu, (15-17/12/2025).
In-House Training Social Media dilakukan sebagai bentuk penguatan kapasitas tim Media Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI) dan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI).
Dalam agenda yang digelar di Hotel Amaris Juanda, Jakarta Pusat. Peserta tak hanya diajak belajar membuat konten oleh Nakama Creative Lab sebagai fasilitator, tetapi juga membongkar habis permasalahan konten.
“Selama ini kita pikir asal upload sudah cukup. Ternyata membuat konten yang dipahami dan diterima audiens itu butuh langkah teknis yang jelas, mulai dari konsep sampai narasi yang singkat dan mudah dicerna,” ujar seorang peserta dari tim Media KSPI.
Yang membuat pelatihan ini berbeda, isu utama yang dikampanyekan bukan soal upah, yang selalu menjadi isu seksi dalam gerakan buruh Indonesia. Melainkan Just Transition, sebuah tema besar tentang transisi menuju ekonomi berkelanjutan yang adil bagi pekerja. Isu yang kerap terdengar megah di ruang seminar, namun terasa asing di telinga kelas pekerja.
“Inilah tantangan terbesarnya. Bagaimana menerjemahkan isu rumit seperti Just Transition menjadi pesan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya pesan elit,” lanjutnya.
Menurutnya, tanpa kemasan yang tepat, Just Transition akan terus menjadi istilah mewah yang gagal membela kepentingan buruh. Padahal, di balik istilah itu, tersimpan pertaruhan besar yakni nasib pekerjaan dan masa depan keluarga.
Just transition atau transisi yang adil bukanlah isu lingkungan semata. Ia adalah hak fundamental pekerja, setara dengan hak atas upah layak, jaminan sosial, perlindungan kerja, dan kebebasan berserikat. Konsep ini menempatkan pekerja sebagai pusat dari transisi energi, khususnya di tengah transformasi besar menuju ekonomi rendah karbon, digitalisasi, dan pergeseran struktur industri.
Peta jalan ILO (Guidelines for a Just Transition towards Environmentally Sustainable Economies and Societies for All, 2015) menegaskan bahwa transisi yang adil harus dibangun di atas pilar-pilar pekerjaan layak (decent work), perlindungan sosial, hak-hak pekerja, dan dialog sosial. Artinya, setiap kebijakan perubahan industri wajib menjamin keberlanjutan penghidupan pekerja, menyediakan pelatihan ulang (reskilling dan upskilling), memastikan perlindungan sosial yang memadai, dan melibatkan serikat pekerja dalam proses perumusan kebijakan.
Tanpa prinsip just transition, perubahan industri berisiko meminggirkan pekerja, memperbesar pengangguran, dan memperdalam ketimpangan. Bayangkan jika reformasi industri dilakukan tanpa perlindungan memadai. Ribuan pekerja akan kehilangan mata pencaharian, sementara program penyesuaian hanya menguntungkan pihak modal.
Itulah sebabnya, hak atas just transition harus diintegrasikan ke dalam kebijakan ketenagakerjaan nasional. Pemerintah harus menetapkan regulasi yang mewajibkan perusahaan memberikan perlindungan kerja selama proses transisi, menyediakan kompensasi yang adil bagi pekerja yang terdampak, dan menjamin akses pelatihan bagi seluruh pekerja tanpa diskriminasi.
Jelasnya, Just Transition (Transisi berkeadilan) adalah konsep untuk memastikan transisi menuju ekonomi rendah karbon dan berkelanjutan dilakukan secara adil, inklusif, dan tidak meninggalkan siapa pun. Terutama pekerja dan komunitas yang terdampak perubahan iklim dan kebijakan lingkungan, dengan menciptakan pekerjaan layak, perlindungan sosial, pelatihan, dan memastikan partisipasi semua pihak dalam pengambilan keputusan. Ini berfokus pada keadilan sosial dan lingkungan, mengadvokasi kebijakan yang mengintegrasikan hak asasi manusia, mengurangi ketidaksetaraan, dan mengakomodasi tradisi serta budaya.
Kemudian, perlu digaris bawahi. Media sosial bukan lagi pelengkap, melainkan medan tempur utama. Dan tanpa kemampuan bercerita yang kuat, isu sebesar apa pun akan kalah oleh algoritma.
Dari ruang hotel sederhana di Jakarta Pusat, satu pesan pun ditegaskan bahwa perjuangan buruh tak boleh kalah hanya karena gagal mengemas ceritanya sendiri.