Demi Menghindari PHK, Banyak Buruh Menjadikan Pengusaha sebagai Tuhannya

Demi Menghindari PHK, Banyak Buruh Menjadikan Pengusaha sebagai Tuhannya

Jakarta, KPonline, – Hampir dapat dipastikan, mayoritas buruh di negeri ini menganut agama dan meyakini bahwa Tuhanlah penentu jalan hidup, rezeki, dan masa depan manusia.

Maka secara moral, buruh yang beragama semestinya memiliki kecerdasan spiritual dan ketajaman nurani, bukan justru nurani yang tumpul karena ketakutan.

Tetapi yang terjadi, ketika seorang buruh mengaku beriman, tetapi tak lagi mampu membedakan mana yang hak dan mana yang batil, maka patut dipertanyakan,apa makna agama itu baginya?

Agama bukan sekadar identitas di KTP. Bukan pula ritual yang selesai di tempat ibadah.Agama adalah kompas moral penunjuk arah, ketika kekuasaan menekan, ketika ketidakadilan dilegalkan, dan ketika kezaliman dibungkus dengan bahasa “demi perusahaan” dan “demi stabilitas”. Di situlah sejatinya iman diuji.

Ketika yang salah dibenarkan demi kepentingan, ketika pelanggaran didiamkan atas nama ketenangan, ketika ketidakadilan diterima karena takut kehilangan pekerjaan, maka agama tidak sedang dijalankan,ia sedang dikalahkan.

Diam terhadap kebatilan bukan sikap netral.Diam adalah bentuk keberpihakan yang paling halus, namun paling berbahaya.

Lebih parah lagi, ketika nilai-nilai agama dipelintir untuk menasihati buruh agar “sabar”, “ikhlas”, dan “tidak melawan”, sementara pengusaha bebas menindas tanpa etika dan hukum,saat itulah agama telah dijadikan alat kekuasaan, bukan lagi pedoman kebenaran.

Beragama tanpa keberanian moral hanya melahirkan kepatuhan buta. Lidah rajin berdoa, tetapi hati berkompromi dengan kebatilan.Ibadah menjadi rutinitas kosong ketika tidak melahirkan keberpihakan pada keadilan.

Apa arti sujud yang panjang, jika dalam kehidupan nyata kita berdiri membela yang kuat dan membiarkan yang lemah diinjak-injak?

Sejarah membuktikan: kebenaran hampir selalu lahir dari suara yang tidak populer. Para pembela hak sering dicap pembangkang,

sementara para pendiam dipuji sebagai “bijak”. Padahal agama sejatinya tidak pernah mengajarkan ketakutan pada kekuasaan, melainkan ketundukan penuh pada kebenaran.

Fakta di lapangan menunjukkan kenyataan pahit:

banyak buruh rela diperlakukan seperti budak, diperas, dihisap dan ditindas.Tidak berani menolak kebijakan yang jelas melanggar etika dan hukum.Tidak berani melawan kesewenangan pengusaha. Alasannya cuma satu, takut diputus hubungan kerja (PHK) dan dimutasikan. Ketakutan itu akhirnya melahirkan kepatuhan, kepatuhan melahirkan penindasan, dan penindasan diterima sebagai “takdir”.

Buruh terus dihisap, diperas, dan dieksploitasi,bukan karena pengusaha terlalu kuat, tetapi karena buruh terlalu takut.

Maka muncul pertanyaan paling mendasar”,  Apakah jika di-PHK, dunia akan kiamat dan hilangnya semua rezeki dari Tuhan?

Buruh yang benar-benar beragama akan menjawab:

“PHK adalah risiko hidup, tetapi rezeki tidak pernah berhenti karena keputusan manusia.”

Buruh seperti ini memiliki kecerdasan spiritual. Ia sadar bahwa pengusaha bukan Tuhan, dan tidak akan pernah merasa takut dan menukar imannya dengan ancaman dari pengusaha, meskipun harus di PHK.

Sebaliknya, buruh yang beragama secara palsu akan berkata, “Kalau di-PHK berarti rezeki hilang.”

Pernyataan ini sesungguhnya adalah pengakuan iman yang runtuh,karena secara tidak sadar ia telah memindahkan keyakinannya dari Tuhan kepada pengusaha

Di titik itulah buruh tersebut menjadikan pengusaha sebagai Tuhannya, yang ditakuti, ditaati, dan tidak boleh dilawan.

Maka jika beragama tidak lagi membuat kita berani berkata, “ini hak” dan “itu batil”,j ika iman tak sanggup menolak kezaliman dan kebohongan, barangkali yang tersisa hanyalah nama agama,tanpa ruh, tanpa keberanian, dan tanpa makna. (Anto Bangun)